Weblog aggregator Bloggerian
Related tags: life [+], Weekend [+]
saat emosi terlecut membakar nadi
memanggil sang kegelapan yang lama tersembunyi
dan kata menjadi liar tak terkendali
tinggal tersisa sesal dihati
kala yang tercinta menitikkan air mata
dan nestapa belahan jiwa meredupkan nyawa
seketika asa terbawa ruang hampa
dan raga merindukan panasnya bara
aku terpana dalam paradox sejati
cinta telah melukai cinta itu sendiri
aku benci diriku sendiri
Ini foto-foto dari perayaan Natal kantor yang diadain 15 Desember kemarin.
Untuk link lengkapnya bisa dilihat di Flickr
Yak, inilah salah satunya. Sebenernya udah tau lama sih, fitur ini ada di Word mulai MS Office 2007.
Enaknya, lu bisa pake formatting yang ada di Word, seperti basic text, insert picture, clip art, shapes, smart art, chart, (yang ke-3 terakhir blom test hasilnya di web). Insert table mungkin salah satu fitur yang bakalan berguna banget untuk nampilin content2 berbentuk table dengan formatnya.
Posting ini untuk mencoba memasukkan ilustrasi kedalam postingan:
Table
| No | Test 1 | Test 2 |
| 1 | Content 1 | Remarks content 1 |
| 2 | Content 2 | Remarks content 2 |
Shapes with text

Smart Art

Chart

Word Art

akhirnya, setelah bertahun-tahun kembali nge-blog. setelah berbulan-bulan berencana, baru terwujud. bukan resolusi akhir tahun, bukan juga niatan awal tahun. tapi semua datang bersamaan, jadi bingung mana yang harus duluan.
masih di pekerjaan lama, perusahaan lama (meskipun pindah nama), gaji yang tidak jauh berbeda (halah…), tapi kini dengan keluarga baru, rencana masa depan baru, dan kontrakan baru (mudah-mudahan tidak lama).
banyak yang mau dikeluarkan, tapi enaknya pelan-pelan, agak ditahan tapi jangan lama-lama, bisa lecet katanya.
tanpa banyak bicara, sudah cukup mencoba-coba, inilah apa adanya.
GBU
I do
Just me and my family
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Sedari semalem hujan mengguyur Bandung, setidaknya daerah Dago. Berat rasanya bangun untuk kembali ke kota Jakarta mengais dollar. Penginnya lebih lama lagi berada di Bandung, menikmati suasananya, baik pagi siang maupun malam. Nyaman buat berlama-lama istirahat seharian. Tetapi pun temen-temen sudah banyak hijrah ke kota metropolitan. Bangun pagi-pagi, menyiapkan segala sesuatunya dan mau ga mau berangkat.
Melangkah dengan diiringi hujan rintik-rintik, gue memenuhi angkot yang mengangkut mahasiswa ITB, yang tertangkap dengar oleh kuping gue kalo mereka bit stress dengan quiz hari ini. 80% isinya mahasiswa di dalam angkot. Hanya gue yang bercelanakan selutut. Spot pemberhentian sudah pasti di lokasi dekat kampus. Gue mendapati kejadian yang dulu juga pernah berlaku sama gue. Seorang pemuda, ditaksirkan masih semesteran awal-awal. Dia menyerahkan uang 50.000 rupiah untuk membayar angkot, apa yang terjadi tentu saja mudah ditebak. Supir angkotnya langsung menyatakan ga ada kembalian dengan uang sebesar itu. Agak kesel dari nadanya, karena masih pagi-pagi dia baru narik sudah disodor uang dengan nominal besar untuk tarif si penumpang hanya 1.000 rupiah saja dari tempat daerah kost gue. Akhirnya pemuda tadi digratiskan, ga perlu bayar angkot daripada si abang supirnya rugi recehan dan uang kembaliannya habis buat si doski.
Hal itu menggelitik gue, si mahasiswa itu gue yakin dia bukan pertama kali naek angkot itu, dan tentu saja bukannya ga boleh memiliki uang dengan nominal tersebut. Hanya saja, tidakkah bisa sedikit berpikir kalo tarifnya sampe ke lokasi itu hanya membutuhkan nominal sekian. Jangan lah pula menyusahkan si sopir angkot (meski kadang-kadang sopir angkot juga mengesalkan penumpang). Hendaknya bisa mempersiapkan uang pas atau receh untuk naik angkot, kalopun perjalanannya jauh masih make sense karena tarifnya sudah pasti beda dan hitungan terjauh. Kejadian itu bukannya 2-3 kali gue melihatnya. Gue merasa itu bisa jadi semacam akal-akalan saja dengan memberi uang sebesar itu, kalo 10ribu masih bisa laa walaupun kadang diterima dengan dengusan kecil.
Hal yang kurang lebih sama adalah ketika sedang membeli barang atau pun jasa di suatu tempat, sering ditanya “ada uang pas?” Kadang pun nominal uang yang gue serahkan ga terlalu gede, untuk ukuran suatu tempat jual beli yang cukup besar terkadang membuat gue risih. Jadi kalo mau kemana-mana, untuk membeli sesuatu itu harus siap sedia uang pas, ga boleh pake uang gede-gede. Punya uang banyak salah, punya uang sedikit salah juga. Seesh…
Lanjut, gue turun dari angkot dengan sambutan air hujan yang masih menyiram dari langit. Tiba dan langsung bayar uang travel Star Shuttle Cihampelas. Dan, hal di atas tadi kejadian lagi dong, “ada uang pas?” padahal.. ah sudahlah..
Gue masih memilih naik travel BDG – JKT ini karena pertimbangan masih murah ketimbang travel lain yang serupa dan marah di Bandung. Hanya sayangnya soal kualitas operasionalnya belum organized semacam X-Trans, CitiTrans atau Cipaganti. Ga ada announce jelas kalo sudah saatnya masuk mobil, bisa jadi ada penumpang yang sedang menunggu di lobi dalam tidak ngeuh kalo uda pada naik. Terus sopirnya pun pagi tadi sepertinya kurang ramah, tidak menjadi soal hanya saja pembawaannya a bit bumpy, beberapa kali gue terbangun tidur. Satu hal lagi, jadwalnya menjadi tidak on time, karena masih terlalu besar toleransi buat penumpang yang tidak on time, jedanya bisa 15 menit. Ya sudaa.. gue hanya penumpang biasa, bisanya ngeluh gini-gini saja.
Tiba di kantor dengan selamat.
Tentu saja gue akan kembali ke Bandung, begalor bersama kawan-kawan yang ada dan tersisa. Kemarin acaranya adalah begalor (bergaul – istilah dari Belitung) di Cloud 9 dengan formasi sama sewaktu liburan ke Belitung kemarin, minus Kuda. Sehabis nongkrong, kita unjuk kebolehan suara di NAV Plaza Dago sampe dini hari. Dan kembali ke peraduan masing-masing, dan hujan pun langsung menghampiri. Besoknya, gue datang ke diskusi sekaligus ngariung BBV di Common Room, terus berakhir di Bebek Van Java.
Day 1
Seneng bisa pulang kampung sebelum harga tiket pesawat melonjak. Seperti biasa, kita disuruh dateng cepet ke bandara, tapi pesawat take off-nya molor sejam dari jadwal. Memang sik daripada mepet2 dgn keberengkatan jadinya grasak grusuk mendingan nyantai dulu di waiting room, cuman ya kelamaan.
Penerbangannya lancar, cara pilot kali ini mengendalikan pesawat saat take off dan landing cukup smooth. Ga ada kendala berarti selama perjalanan kemarin, hanya saja kurang sreg dengan pramugarinya yang beraut muka jutek. Tapi gue akui kalo pramugari Sriwijaya Air lebih cantik ketimbang maskapai penerbangan domestik yang lain. Wekekek
Tiba di Pangkalpinang sudah mendekati magrib, dijemput bapak ibu dan kakak. Terus langsung ke tempat foto untuk bikin pas foto yang buat urus surat KTP, gue butuh KK beralamatkan Jakarta. Yang nantinya buat ngurus paspor dan visa ke Afrika.
Setelah magrib, terus ke rumah bibi yang mengadakan acara sedekahan yaitu tradisi bibi sejak lama menyambut bulan puasa. Gue ga terlalu memusingkan apakah tradisi tersebut perlu atau tidak jika dilihat dari segi agama, gue hanya memikirkan makanannya apa aja, dan sebanyak apa gue nanti makannya hehehe. yak, semalem gue makan 3 piring lebih.
Pulang ke rumah, listrik masih padam. Sungguh hebat Perusahaan Litrik Negara ini, alasan klise apalagi? Kita kok mau-maunya dikacangi sama PLN. Ini kan hak kita juga untuk mendapatkan kehidupan yang layak dengan ketersediaannya listrik. Malam pun ditutup acara makan pempek Palembang dengan cahaya temaram, yang dibawa sama ibu langsung dari Palembang yang kemarin ke sana dalam acara nikahan sepupu gue, Feby.
Day 2
Bangun pagi, sarapan mie goreng. Siap-siap ke keluar kota, kota Muntok atau Mentok, yang dulunya tempat peleburan timah.
Perjalanan di pagi hari tidak macet, udara masih segar, cukup jauh yang ditempuh kurang lebih sekitar 3 jam lebih. Tujuannya ke sana sebenernya adalah menemani kegiata bapak yang profesinya selaku pengacara bagi kaum kecil yang teraniaya. Ada yang dibanggain dari bapak, kerna sering membela kaum kecil di daerah-daerah yang jauh dan terpelosok, cukup sering bapak hanya menerima bayaran berupa buah-buahan hasil kebun mereka, bahkan ada yang benar-benar tidak mampu bayar, tapi tak mengapa bapak tetep lanjut dengan profesinya, karena mahfum dengan kondisi yang dijalani oleh mereka kaum kecil. Hanya saja ada juga yang memanfaatka kebaikan bapak, dengan cara kabur tidak membayar hasil kerja keras keringat bapak memenangkan kasusnya. Apapun itu yang bapak dapatkan pastinya akan mendapatkan balasan yan setimpal, walaupun tidak berbentuk materi nominal uang.
Di tengah perjalanan, gue ditelfon oleh mas Fajar dari Trijaya FM Bandung, mengundang gue untuk hadir di acara Talk Show on Air mengulas seputar komunitas BBV, berhubung gue ga bisa mencoba untuk menghubungi teman-teman lain untuk datang, ternyata ga ada yang bisa juga, sudah terlalu padat untuk akhir pekan. Akhirnya akan diundur minggu depannya lagi.
Selama perjalanan juga, gue melihat suatu pemandangan yang memprihatinkan, di setiap gas station yang kami lalui di jalan dipenuhi dengan antrian truk, mobil, dkk untuk mendapat jatah BBM. Antrian yang begitu panjang, dan mereka bersedia untuk mengantri dan bermalam di dekat SPBU yang ada. Sesampai di kota tujuan pun, setiap SPBU terlihat pemandangan yang sama, antri yang mengular.
Shalat Jum’at di mesjid Baitul Hikmah, rasa kantuk menyerang hebat. Setan-nya ternyata bukan hanya di Jakarta aja kalo Jumatan datang mengganggu mata ini terasa berat dan tidak menyimak khotbah. Yang salah entah guenya entah si khotib, topiknya agak melantur dicoba dipaksakan untuk saling berkorelasi, rada bertele-tele sehingga terasa panjang sekali.
Selepas jumatan, persediaan bensin di mobil sudah menipis, yang kemudian ikut mengantri bersama truk, mobil yang antrian di SPBU. Sembari menunggu/mengantri, kita makan siang di mobil. Ibu bawa bekal nasi dan lauk dari rumah. Waktu yang pas untuk makan siang, dan semuanya makannya lahap :)
Ketika sudah mendekati SPBU hampir sejam menunggu, rupanya persediaan bahan bakar habis total yang mau ga mau membuat pengantri serempak koor “huu” dan klakson pun ikut meramaikan suasana. What? Selama sejam nuggu eh malah habis pas uda deket. apes dah. Akhirnya kita lanjut lagi cari bensin jual eceran di kampung-kampung yang harganya tentu saja lebih mahal yaitu 10ribu per liter. karena sudah kepepet, tidak ada option lain.
Kerna sudah mendekati sore, gue pun driving fast yang membuat bapak berpegangan kuat heheh, belum tahu kalo anaknya sopir transjawa hohoho (dulu pernah nyasar sepulang dari candi Borobudur, nyasar sedikit keliling jawa).
Perjalanan ini [un ditutup dengan kunjungan ke rumah sodara di Parit Tiga yang juga menjemput buah berulit durian, apalagi kalo bukan Durian! Hanya saja musimnya sudah berlalu jadinya hanya dapet beberapa saja, tapi cukuplah buat kami. Yang menjadi inceran durian jenis unggul dengan nama Durian Tai Babi, entah kenapa dibikin namanya begitu, dun ask me why. Tapi jika kalian belum tahu, itu rasanya manis banget, isinya gede-gede, bijinya kecil, buahnya gede bgt. So pantas lah dibilang unggul dari segi rasa, bentuk dan kepuasannya.
Sempet ada adegan yang tak terduga, kamera digital gue sempet direbut oleh seekor monyet kecil, namanya Luki oleh si majikan. Kamera ini bisa berada di tangannya setelah dia berhasil merebut dari tangan gue akibat gue yang lengah dan terlalu dekat posisinya, alih-alih mau ambil gambar close-up si monyet. Setelah berhasil direbut olehnya, kamera pun sempat terbanting ke lantai.. huhu.. lecet-lecet pula. untungnya masih bisa jalan, kalo rusak bisa nangis darah, atau bisa gue sembelih tu monyet (kayaknya sik ga mungkin ya, wong majikannya gendut muka galak gitu).
Pulang badan gempor-gempor, jadi supir emang melelahkan.
Day 3
Bangun pagi hanya sedikit telat, maklum masih berasa ngantuk banget, perjalanan seharian penuh kemarin menguras energi. Terus ikut ibu pergi ke Pasar Pagi. Dulu sewaktu kecil jaman sekolah gue sering ikut ibu ke pasar ini, dan sering merengek minta beli ini itu, banyak maenan, makanan yang mengundang rasa suka buat anak kecil semasa itu. Dan tentu saja ibu tidak serta merta menuruti keinginan gue, karena ga mau dibiasain jajan-jajan yang ga penting. Di pasar ini pun biasanya banyak cerita, kalo ibunya si A, si B, si C uda ketemu pas-pasan di pasar bercerita ini itu, so jadi bisa dibilang juga Pasar merupakan media infotainment di mana segala berita, cerita, gosip berkumpul dan menyebar. Fortunately, ibu gue bukan tukang gosip heheh.
Sebelum mengakhiri belanja di pasar, mampir bentar untuk membeli otak-otak Bangka. Nyum-nyum, sudah lama sekali tidak merasakannya yang khas sekali, apalagi cukanya itu. Memang tidak seperti dijual di Jakarta, Bandung dan kota lain. Dan gue langsung berencana untuk membawanya ke Jakarta, bukan untuk dijual tetapi dibagikan kepada sesama. Lihat saja nanti.
Siang selepas tengah hari, gue bersama kakak, ibu, bapak, dan temen deket kakak pergi ke Pantai Parai, yang kemarin saat isra’ mijraj ada SBY dateng dan menginap di penginapan pantai Parai. Akhirnya gue bisa berkunjung ke Pantai yang cukup indah ini. Banyak infoseputar pantai ini di majalah-majalah, bahkan tivi. Foto-fotonya menyusul ya. Setelah puas foto-foto, ada insiden kecil tapi berdarah. Ibu gue sempet tersandung di daerah bebatuan, dan kening ibu langsung mengucur darah. Gue yang sempet berpose untuk foto-foto sontak langsung menghampiri dengan perasaan was-was. Melihat posisi ibu yang sedang jatuh dan berdarah sempat membuat darah gue mendesir. Tapi, untungnya baik-baik saja. Hanya luka kecil meskipun bagi gue cukup mengerikan. Setelah diobati di bagian perlengkapan dekat resto pantai. Keadaan kembali normal. Hanya saja gue merasa ga nyaman dengan kejadian tersebut. Tujuan ke pantai ini untuk menikmati pemandangannya yang indah, dan ini karena keinginan gue pula. Gue bersyukur ibu masih dalam kondisi baik-baik saja.
Info seputar penginapan di Pantai Parai, harganya sekitar 800ribu untuk 1 cottage, sementara yang doublecottage sekitar 1.200.000-an. Hari sudah menjelang sore, dan kita pulang dengan dibalur keletihan yang sangat.
Foto-fotonya bisa diakses di sini.
Day 4
Bangun kesiangan. Sarapan mi goreng. Siangnya berangkat lagi ke keluar kota, kali ini ke Pantai Bio, Pantai Tanjung Pesona, dan Pantai yang dekat dengan Kuil. Perjalanannya cukup jauh, lebih jauh dari pantai Parai kemarin. Suasanya masih sepi dan alami. Kerna memang belum banyak orang yang tahu atau berkunjung ke pantai Bio. Asal usul namanya gue ga tahu persis. Desas-desusnya beberapa tahun silam lamanya, dekat pantai situ pernah ada kejadian menghebohkan yaitu ditemukan mayat polisi yang dibenamkan di pinggiran pantai oleh sekelompok penyelundup timah. Kondisinya sudah cukup tragis. Jalan ke arah sana setengah tanah merah, setengah aspal. Dan ada satu jalan di pertigaan yang menuju pantai angker, warga setempat menyebutnya dengan Pantai Hantu. Sempet terbersit untuk ke sana :D
Setelah puas safari pantai hari ini, makan malam dibikinin nasi goreng sebakul banyaknya, rasanya juara banget, minimal harganya 15ribu kalo dijual. Terus disambung acara makan martabak manis khas Bangka. Tahu dong yang manis banget itu, gue aja cuman sanggup makan 3 saja.
Day 5
Pesan otak-otak untuk dibawa ke Jakarta, dan oleh-oleh lainnya khas Bangka seperti cumi kering, kemplang rasa udang dan cumi, dan banyak lagi. Sebesar kardus.
Day 6
Prepare to go home, and Siwijaya Air dengan harga yang mulai naik menjadi 500ribu kurang ceban. Selang tiga hari berikutnya naik menjadi 800ribu per kepala. Yikes..
Biang kerok kemacetan jalan Dago weekend kemarin adalah peresmian sebuah Factory Outlet (baca:belanja murah dan biang macet) bernama Seximo. Pemilihan nama tersebut pasti ada pertimbangan khusus dari pemilik atau stakeholders, mungkin agar gampang diingat para pelancong-pelancong kota Bandung agar weekend depan nanti bisa ngeramein jalanan dago lagih.
Tempat peresmian tsb mengambil FO yang sebelumnya sudah lama ada di situ tetapi nampaknya kurang begitu berhasil meningkatkan rating pengunjung dan kalah bersaing dengan tetangganya sehingga menyebabkan kerugian dari pihak lama, mungkin kemudian memutuskan untuk menggunakan nama baru, atau memang pemilik baru. Gue rasa sih konsepnya ga terlalu heboh atau berbeda dari sebelumnya. Apa sik yang dilihat dari FO-FO yang ada, barang-barang ditawarkan standar saja, cukup banyak kalah kualitas dengan yang ada di mall atau butik. Inginnya menawarkan harga yang lebih murah tetapi buat gue banyak yang pas-pasan. Hanya karena dibalur dengan interior yang lebih mewah ketimbang toko baju biasa di pasar. Sekarang marak FO di Bandung diberi fitur tempat makan sembari untuk para suami atau pria-pria bahkan anak-anak menunggu istri, pacar dan ortunya belanja. Konsep ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak lagi pengunjung dan agar tidak jenuh dengan shopping-dgn-harapan-dpt-baju-yang-lebih-murah.
Kembali ke Seximo tadi, daya tarik peresmian acara tsb dilakukan salah satunya dengan menampilkan model-model sexy di tengah pembatas jalan, berdiri berjejer bagaikan manekin hidup memamerkan lekuk tubuh mereka yang bohay kepada rakyat yang lewat, mereka pedagang keliling, rakyat yang rumahnya ga jauh dari situ, dan pengunjung FO lainnya. Tidak canggung pastinya karena dibayar mahal; pleus kamar hotel setelah acara dengan pria genit (meureunn mah nu ieu). Gue bermaksud ke Warung Pasta di jalan Ganeca sore itu, akhirnya turun dari angkot, nanggung juga untuk bertahan di angkot. Gue bisa apa to, mereka punya modal untuk membuat seperti itu, ga bosen-bosennya membangun kerajaan FO di jalanan Dago. Bahkan sampai ada marching band segala lho untuk memeriahkan acara. Sah-sah aja memang.
Inti dari kisah kali ini sebenarnya adalah menyorot (lagi-lagi) hari-hari di penghujung minggu. Sudah cukup biasa melihat pemandangan kota Bandung yang macet gara-gara invasi warga kota lain untuk menikmati jajanan dan belanja murah di kota Bandung yang berjulukkan Kota Kembang. Sudah cukup sering warga Bandung atau orang-orang yang tinggal di Bandung mengeluh hal yang serupa, “Bandung macreett”. Perolehan keuntungan travel-travel yang kian menjamur di Bandung semakin meningkat seiring menaiknya jumlah penumpang yang mengkonsumsi jasa ini sebagai alternatif jasa umum seperti bis dan kereta. Para penyedia jasa transportasi nampak agak kewalahan juga tetapi sekaligus senang, bagi mereka ini adalah keuntungan besar dalam kehidupan mereka.
Bagaimana sebaiknya menyikapi hal seperti itu, Bandung di kala dulu memang beda banget kondisinya. Bagi sebagian orang Bandung asik dan nyaman buat istirahat dan jalan-jalan. Pertimbangan lainnya adalah karena masih terhitung murah dari segi makanan, dan jarak kota Bandung tidak begitu jauh lagi terasa, hanya 2 jam-an ditempuh via tol Cipularang. Gue meskipun bukan asli Bandung pun ikut prihatin dengan kondisi weekend sekarang-sekarang ini di Bandung. Sudah merupakan hak setiap orang untuk mendapatkan suasana yang beda dari kota asal mereka, ya Bandung emang bikin ngangenin bagi banyak orang. Termasuk gue, yang masih ngekost di Bandung walau sudah kerja full di Jakarta. Sekarang hanya bisa akhir pekan saja menyambangi kasur yang nyaman di kamar kost seharian…
Macet di Bandung, pain in the ass …