Weblog aggregator Bloggerian
HARI ini saya kembali membaca-baca apa yang sudah pernah saya tulis di sini. Ada yang serius, becanda, iseng, renung, panjang, pendek.
Hmm, saatnya kembali berhitung seberapa banyak waktu yang sudah “terbuang” untuk blog ini. Mudah-mudahan bermanfaat.
NGOMONG-ngomong, kapan ya diumumkannya? :p
MENDENGAR dan mengetahui ada beberapa blogger yang akhirnya membuat buku based on their blog posting, timbul perasaan antara senang dan bingung.
Senang karena menerbitkan buku, atas nama diri sendiri, bagaimana pun merupakan prestasi. Buku, kata pepatah lama, adalah sebuah jejak abadi (itu kalau bukunya ndak dibakar) dalam rentang kehidupan manusia.
Lalu, kenapa saya bingung?
Ya karena jadi semakin absurd. Bukankah blog merupakan media alternatif, new media, terhadap media lama semisal koran, majalah, dan buku? Bukankah kata orang blog itu mampu berbuat lebih banyak, memuat cerita lebih panjang, tak berbatas halaman, tak terkendala aturan tata-bahasa dan bahkan norma, dan mampu menjangkau khalayak yang lebih luas? Kenapa justru dikembalikan ke media yang amat terbatas itu?
Mungkin teman-teman yang sudah menerbitkan buku itu bisa menjelaskan kebingungan saya.
PS: Selamat Hari Natal bagi yang merayakannya.
PERNAHKAH Anda berada dalam situasi ini:
Seseorang yang Anda kenal secara formal menjadi pengunjung setia blog Anda, karenanya Anda berusaha untuk menulis sebaik-baiknya.
I’m in it and it feels sucks!
I once said that lists are always interesting. And today I found a list of Top 100 Indonesian Blogger, made by Indonesia Matters with a bunch of criteria.
And there it is, Daustralala on ranking 39. Is it important? Dunno. Like I said, lists are always interesting ![]()
Friend: So, you switched your blog into this, mmm, photoblog. Don’t you affraid that aggregators maintainer where your blog featured in will get rid of your feed RSS?
Me: Hehehe. That’s life, my friend. It’s just a blog anyway.
PERTANYAAN itu menggayut di benak saya setelah menyimak pengakuan-pengakuan dalam Kuakui.com. Coba saudara baca-baca. Kebanyakan pengakuan seputar seks.
Apakah kebanyakan kita menyimpan begitu banyak rahasia soal seks? Mungkin Ndoro satu ini tahu lebih banyak daripada saya dalam soal ini.
IYA. Di dalam teater tempat penyelenggaraan acara Pesta Blogger kemarin, saya sempat telepon beliau karena celingak-celinguk saya tidak kunjung menemukan dia.
Dia bilang dengan gaya khasnya: “Saya tidak ada di-list, kok.”
Well, apa pun alasannya, yang pasti saya merindukan dia walaupun dulu di kantor lumayan sering bertemu. Dan, kalau mau jujur, menurut saya dia layak jadi blogger
terbaik karena terlihat sekali passion dalam tulisan-tulisannya.
See ya Om.
Seminggu di kampung benar-benar menyegarkan saya. Langit yang masih biru, nyiur-nyiur tertiup bayu, udara yang bersih, wajah-wajah asing. Saya tidak mengabadikan liburan kemarin dengan kamera foto, tetapi menggunakan sebuah kamera video. Kapan-kapan akan saya unggah.
Dan kini, saya kembali ke Jakarta, kembali ke keriuhan. Kembali akrobat dengan pekerjaan. kembali ngeblog. Back to rock and roll!
“Ibu tahu, kenapa setiap orang ingin sekali meruapkan kegetiran hidupnya pada orang lain? Bukankah, kata ibu, merasakan saja sudah cukup?”
“Karena dengan berbagi kesedihan, kita merasa tidak sendirian?”
“Betul sekali. Manusia cenderung membenci kesendirian. Juga dalam merasakan. Bahagia, derita, senang, sedih, semuanya akan lebih menyenangkan jika dirasakan atau dialami bersama. Entah dengan pasangan kita, sahabat, bahkan dengan orang lain yang tidak kita kenal sekalipun. Malahan, banyak orang berpendapat berbagi cerita dengan orang yang tidak dikenal lebih terasa tidak ada beban. Kesedihan itu seperti rawa-rawa yang pelan-pelan menenggelamkan semangat hidup seseorang. Orang yang seperti itu butuh sesuatu untuk berpegang, agar tidak tenggelam lebih dalam lagi.”
*Ini adalah fragmen kedua setelah fragmen yang pernah saya tulis di sini. Keduanya tidak berhubungan karena diambil dari dua cerita yang berbeda. Saya akan menuliskan fragmen-fragmen serupa yang saya nukil dari cerpen atau puisi saya, baik yang sudah diterbitkan maupun yang belum, juga dari coretan-coretan yang belum rampung. Tujuannya? Sekadar iseng di tengah-tengah kebuntuan menulis blog ![]()
Ralat: Maaf ada kesalahan. Tertulis:
Cuma, memang berat kalau harus membayar 200 ribu untuk datang
Yang benar, 200 pendaftar pertama digratiskan, selebihnya baru bayar.
BEBERAPA hari belakangan, browser saya (Firefox) di rumah tidak mau membuka website/URL yang mengandung kata-kata seperti “porno”, “seksi”, dan kata-kata lain yang dianggap sebagai x-rated. Aneh.
DIDI telah memaksa saya untuk menyenaraikan delapan kebiasaan buruk saya. Ini semacam pesan berantai sebenarnya. Nanti, saya pun harus meneruskan ini ke orang-orang yang saya pilih sendiri.
Well well… finally Wordpress officially released the Wordpress 2.3 Release Candidate 1.
As they announced in their website;
The first release candidate for WordPress 2.3 is now available. We’ve spent the week since beta 3 fixing bugs and shaping RC1 into release candidate material. If you would like try RC1 and help us get 2.3 ready for its final release on Monday the 24th, download RC1 here and report any bugs you find. Although we consider this release candidate to be stable, keep in mind that this is still pre-release software. You may find some lingering bugs. Please back up your database before upgrading. If you have problems with RC1, you will not be able to revert back to your previous release without a database backup.
And a big thanks to those of you who have been testing the betas and now the RC. Your efforts make 2.3 better for everyone.
Ada yang berani nyoba?
Beberapa kali gue berkunjung ke weblog yang dihosted sama Wordpress, dan setiap mau kasih komentar, selalu ada pesan-pesan seperti ini..

atau yang versi indonesia-nya

emang ada apa dengan gue? apakah gue dianggap spam? he he he..
berkali-kali gue musti nunggu dulu beberapa saat, terus baru pencet submit, dan baru berhasil buat kasih komentar, dan bahkan, ada di beberapa blog yang gue gak bisa kasih komentar sama sekali : (
ribet dong kalo musti log-in dulu ke Wordpress.. lantas kemudian baru kasih komentar. Ada-ada aja.. ini namanya teknologi bikin ribet. Kalo ada yang ribet, kenapa musti gampang ??