About

Planet Bloggerian adalah aggregator daripada tulisan-tulisan members Forum Bloggerian.

Subscribe

Untuk mendaftar, menghubungi kami, kasih kritik, saran dll, silakan isi Contact Form.

Desclaimer

The intellectual property of the content that is found in this website belongs exclusively to the origin authors.

Statistics

Bloggerian Top Hits

Feeds

3211 items (3207 unread) in 34 feeds

  • Setting MX Entry dan CNAME Records

    Posted: December 7th, 2009, 7:10pm WIT by ikez
    TagsHow To  

    Akhirnya gue bisa juga mengutak-atik domain supaya bisa menggunakan Google Apps tanpa harus memiliki hosting. Awalnya gue order domain untuk salah satu client gue, tetapi hanya untuk keperluan email saja dan ingin menggunakan Google Mail. Setelah konsultasi sendikit dengan admin IdRoot, lalu gue set di Domain Manager-nya, pilih domain yang baru didaftarkan, kemudian ada tab DNS (free). Masuk ke halaman tsb dan mulai mengkonfigurasi MX Entry dan CNAME Records-nya.

    Konfigurasi CNAME Records bisa langsung loncat ke halaman instruksi di Google.

    MX Entry yang gue masukkan awalnya salah, dan hampir 3 hari gue menunggu resolving dan setelah mendapat referensi hasil googling, akhirnya bisa juga dengan cepat (resolved).

    Berikut cara singkatnya :

    1. Masukkan ASPMX.L.GOOGLE.COM. (jangan lupa ada titik di belakangnya) pada kolom VALUE
    2. Isi pada kolom MX PRIORITY : 1
    3. Pada kolom TTL, idealnya dimasukkan nilai 3600 sesuai dengan instruksi oleh Google, tetapi rupanya nilai yang  gue masukkan 3600 tidak valid, mesti di atas 14400 seconds. Akhirnya gue masukkan 86400 seconds (yang artinya 1 hari). Ref. http://manage.idroot.com/kb/servlet/KBServlet/faq471.html

    Jika ingin sesuai dengan cara Google :

    http://www.google.com/support/a/bin/answer.py?hl=en&answer=33915

    Untuk tes MX Entry yang sudah kita set tadi, bisa lakukan di sini. Jika berhasil maka akan muncul informasi yang sesuai dengan kita input, dan tidak ada pesan error.

    Permalink for 'm_d/2009/12/07/Setting_MX_Entry_dan_CNAME_Records'
  • Apa kabar?

    Posted: November 26th, 2009, 2:06pm WIT by Ikez
    TagsBlabbering  

    Apa kabar, blog? Gara-gara keasikan bermain adiknya blog (microblogging), jadinya ini jarang diupdate lagi. Sebenarnya masih banyak yang ingin dibagi di sini, sekarang cuman tes posting saja dari Whitey (iPhone gue).

    Permalink for 'm_d/2009/11/26/Apa_kabar_'
  • Ikhlas

    Posted: June 23rd, 2009, 10:33pm WIT by Ikez
    TagsGeneral  

    Kemarin ada kisah menarik, walau mungkin tidak juga terlalu sensasi, gue hanya ingin sedikit berbagi cerita. Selepas jalan-jalan di Mal Ambasador menemani Dinoy dan ibunya belanja, gue berencana pulang naik ojeg saja ke tempat kos Setiabudi. Ojeg yang berjejeran di depan mal sudah ramai melambai dan menawarkan jasanya. Ketika sampai pada tahap negosiasi, si tukang ojeg meminta bayaran lebih dari biasanya gue pernah alami. Apakah ada kaitan stelan pakaian kerja gue jadinya dimahalin? Sementara gue keukeuh dengan harga yg gue inginkan, dia lalu bereaksi ngambek, seperti anak kecil, sok ogah-ogahan lalu mengopernya ke kawan sebelahnya, walaupun hasil negosiasinya pun sama.

    Gue tatap mata si tukang ojeg sekian detik tanpa bersuara, gue pun langsung berlalu. Walau yang diperdebatkan adalah nominal yang termasuk kecil atau remeh temeh, saat itu gue ga ingin mengeluarkan sekian nominal. Mungkin gue terlalu berlebihan melakukan hal itu, mereka tukang ojeg juga bukannya rakyat biasa juga, yang tidak seberuntung gue dalam mencari uang? Bisa jadi. Tetapi kehidupan kota besar, kita pun harus pandai-pandai memilah, menilai, mana yang layak atau pantas dihargai sekian. Terkadang banyak orang yang tidak jujur untuk mencari nilai lebih, tentu saja akan sangat menguntungkan terlebih dari orang-orang yang tidak mengetahuinya.

    Setelah sekian meter jalan kaki ke arah Rasuna Said, ada seorang bapak-bapak berkendara sepeda motor, menawarkan jasanya, dengan negosiasi cepat tidak pake lama (GPL), langsung saja gue dihantarkan ke tujuan. Sepanjang perjalanan dia banyak bercakap-cakap, terutama perihal rezeki dari aktifitas mengojeg. Bahkan sesampai di tujuan pun beliau masih juga berbicara panjang lebar, soal kejujuran, keikhlasan, rezeki, bahasanya cukup religius yang meluncur dari mulut seorang tukang ojeg dengan pakaian sederhana agak kumal. At a glance, dia tampak seperti orang yang baik. Semoga saja memang bapak yang baik-baik. Sedikit terenyuh, dan gue kasih lebih dari harga nego sebelumnya. Gue ga merasa rugi juga dengan memberi lebih, karena ada asupan pelajaran hidup dari orang lain. Bukan semata didasarkan rasa kasihan. Suatu hal yang bisa diambil hikmahnya, poinnya adalah “jangan mudah mengeluh”. Rezeki bisa datang kapan saja, dia sudah cukup ikhlas dari apa yang didapatkannya dari ngojeg. Walau cuman mendapat untung 5000 saja, itu sudah dianggap rezeki baginya. Tentu tidak lupa menyematkan doa di setiap harinya. Mungkin ini remeh bagi banyak orang di kota besar ini, penuh dengan ambisi cepat kaya, tidak bisa hanya mengandalkan usaha yg itu-itu saja, apa yang dilakukan dan dialami oleh bapak tadi mungkin adalah hal yang mustahil bisa dijalani oleh manusia-manusia kota besar yang angkuh, congkak, dengki dsb. Mungkin saja terbilang tidak juga orang seperti bapak tsb. Dia lalu menawarkan jasa untuk mengantarkan kemana saja jika diperlukan. Ini bisa bermanfaat buat gue nantinya, jika susah taxi atau transport lainnya.

    Seperti 2 hari ini saat makan siang membicarakan perihal kasus salah satu artis dangdut terkenal, dan kelakuan artis/seleb lainnya yang mengalami hal serupa (kurang lebihnya) sebelumnya. Apakah mereka tidak bisa mengambil pelajaran besar dari sesama profesi? Coba inget-inget lagi siapa saja artis ibukota yang terjerumus dalam kasus perceraian dan perlakuan pasangannya? Dari sekian seleb yang ada, mereka lebih senang memilih para pengusaha yang notabene banyak dokunya. Harta, mungkin itulah yang membutakan mereka, yang kemudian mempermalukan diri mereka sendiri. Apakah mereka tidak merasa cukup dari apa yang sudah mereka dapatkan dari profesi masing-masing? Apakah mesti pengusaha untuk dijadikan seorang suami? Apakah terlalu rendah untuk bersama dengan orang biasa tetapi mau bekerja keras di jalan yang halal?

    Too picky, tapi ga bisa menyalahkan sepenuhnya juga, pilihan dan hak masing-masing orang, tentu saja konsekuensinya dirasakan masing-masing. Mungkin mereka belum bisa merasa ikhlas, nerima rezeki yang sudah ada, selalu ingin lebih dan lebih, itu sudah hal dasar manusia.

    Permalink for 'm_d/2009/06/23/Ikhlas'
  • Kumpul Bloggerian 2009 Pt.1

    Posted: February 8th, 2009, 5:21pm WIT by Ikez
    TagsCommunity Events  

    Ngumpul bareng lagi bersama Bloggerian komunitas blog tertua di Indonesia. Yang datang memang berempat saja (Markidi, Isni, gue dan Agus), sepertinya hanya itu saja yang dibilang Bloggerian “sejati” :)) Maklum, temen-temen lain sudah termakan usia masing-masing  sudah beda urusan, seperti keluarga, kerja, dlsb jadi banyak yang berhalangan datang. Lokasi pertemuan kali ini di Sky Dining @Solaria Plaza Semanggi dan dilanjutkan ke kantor Didi (belakang FX) untuk menikmati kekayaan bandwidth pemerintah :))

    Bloggerian @Solaria Sky Dining

    Permalink for 'm_d/2009/02/08/Kumpul_Bloggerian_2009_Pt.1'
  • Liburan Akhir Pekan di Bandung

    Posted: February 2nd, 2009, 1:14am WIT by Ikez
    TagsThe Weekend  

    Sedari semalem hujan mengguyur Bandung, setidaknya daerah Dago. Berat rasanya bangun untuk kembali ke kota Jakarta mengais dollar. Penginnya lebih lama lagi berada di Bandung, menikmati suasananya, baik pagi siang maupun malam. Nyaman buat berlama-lama istirahat seharian. Tetapi pun temen-temen sudah banyak hijrah ke kota metropolitan. Bangun pagi-pagi, menyiapkan segala sesuatunya dan mau ga mau berangkat.

    Melangkah dengan diiringi hujan rintik-rintik, gue memenuhi angkot yang mengangkut mahasiswa ITB, yang tertangkap dengar oleh kuping gue kalo mereka bit stress dengan quiz hari ini. 80% isinya mahasiswa di dalam angkot. Hanya gue yang bercelanakan selutut. Spot pemberhentian sudah pasti di lokasi dekat kampus. Gue mendapati kejadian yang dulu juga pernah berlaku sama gue. Seorang pemuda, ditaksirkan masih semesteran awal-awal. Dia menyerahkan uang 50.000 rupiah untuk membayar angkot, apa yang terjadi tentu saja mudah ditebak. Supir angkotnya langsung menyatakan ga ada kembalian dengan uang sebesar itu. Agak kesel dari nadanya, karena masih pagi-pagi dia baru narik sudah disodor uang dengan nominal besar untuk tarif si penumpang hanya 1.000 rupiah saja dari tempat daerah kost gue. Akhirnya pemuda tadi digratiskan, ga perlu bayar angkot daripada si abang supirnya rugi recehan dan uang kembaliannya habis buat si doski.

    Hal itu menggelitik gue, si mahasiswa itu gue yakin dia bukan pertama kali naek angkot itu, dan tentu saja bukannya ga boleh memiliki uang dengan nominal tersebut. Hanya saja, tidakkah bisa sedikit berpikir kalo tarifnya sampe ke lokasi itu hanya membutuhkan nominal sekian. Jangan lah pula menyusahkan si sopir angkot (meski kadang-kadang sopir angkot juga mengesalkan penumpang). Hendaknya bisa mempersiapkan uang pas atau receh untuk naik angkot, kalopun perjalanannya jauh masih make sense karena tarifnya sudah pasti beda dan hitungan terjauh. Kejadian itu bukannya 2-3 kali gue melihatnya. Gue merasa itu bisa jadi semacam akal-akalan saja dengan memberi uang sebesar itu, kalo 10ribu masih bisa laa walaupun kadang diterima dengan dengusan kecil.

    Hal yang kurang lebih sama adalah ketika sedang membeli barang atau pun jasa di suatu tempat, sering ditanya “ada uang pas?” Kadang pun nominal uang yang gue serahkan ga terlalu gede, untuk ukuran suatu tempat jual beli yang cukup besar terkadang membuat gue risih. Jadi kalo mau kemana-mana, untuk membeli sesuatu itu harus siap sedia uang pas, ga boleh pake uang gede-gede. Punya uang banyak salah, punya uang sedikit salah juga. Seesh…

    Lanjut, gue turun dari angkot dengan sambutan air hujan yang masih menyiram dari langit. Tiba dan langsung bayar uang travel Star Shuttle Cihampelas. Dan, hal di atas tadi kejadian lagi dong, “ada uang pas?” padahal.. ah sudahlah..

    Gue masih memilih naik travel BDG – JKT ini karena pertimbangan masih murah ketimbang travel lain yang serupa dan marah di Bandung. Hanya sayangnya soal kualitas operasionalnya belum organized semacam X-Trans, CitiTrans atau Cipaganti. Ga ada announce jelas kalo sudah saatnya masuk mobil, bisa jadi ada penumpang yang sedang menunggu di lobi dalam tidak ngeuh kalo uda pada naik. Terus sopirnya pun pagi tadi sepertinya kurang ramah, tidak menjadi soal hanya saja pembawaannya a bit bumpy, beberapa kali gue terbangun tidur. Satu hal lagi, jadwalnya menjadi tidak on time, karena masih terlalu besar toleransi buat penumpang yang tidak on time, jedanya bisa 15 menit. Ya sudaa.. gue hanya penumpang biasa, bisanya ngeluh gini-gini saja.

    Tiba di kantor dengan selamat.

    Tentu saja gue akan kembali ke Bandung, begalor bersama kawan-kawan yang ada dan tersisa. Kemarin acaranya adalah begalor (bergaul – istilah dari Belitung) di Cloud 9 dengan formasi sama sewaktu liburan ke Belitung kemarin, minus Kuda. Sehabis nongkrong, kita unjuk kebolehan suara di NAV Plaza Dago sampe dini hari. Dan kembali ke peraduan masing-masing, dan hujan pun langsung menghampiri. Besoknya, gue datang ke diskusi sekaligus ngariung BBV di Common Room, terus berakhir di Bebek Van Java.

    Permalink for 'm_d/2009/02/02/Liburan_Akhir_Pekan_di_Bandung'
  • Belitung : Great Sunset Islands

    Posted: January 28th, 2009, 4:34pm WIT by Ikez
    TagsTravelling  

    Wacana liburan saat itu langsung disambut dengan cepat dan tanpa syak. Beberapa bijik manusia yang penuh tekanan harian dan bulanan sepakat untuk melakukan perjalanan ke sebuah pulau, melepaskan diri dari hal-hal yang menjemukan keseharian di kota besar. Siapa yang menyana (gue suka sekali dengan kata dasar ‘nyana’), kalau pulau yang dibidik adalah Pulau Belitung sebagai sasaran tempat penyucian dosa besar tsb. Bermula dari Pertemuan Warpas (berlokasi Warung Pasta) di suatu malam di kota dingin Bandung, 4 muda mudi membuncahkan wacana liburan, dan hanya per mili detik saja kata sepakat itu muncul tanpa birokrasi yang punya tele-tele.

    Setelah menenggak refill teh lemon gelas demi gelas, kami pun pulang dengan langkah yang penuh dengan iringan sepakat, liburan ke Belitung! Oh yesss! Sudah lama sekali gue ga ke sana, setelah menginjak tanah di sana pertama kalinya sewaktu gue masih bercelana pendek merah, SD!

    Cukup basa-basinya, 6 muda mudi yang akhirnya berangkat ke Negeri Laskar Pelangi tersebut. Berangcut dengan Sriwijaya Air, tadinya mau berangkat dengan kapal laut dengan alasan lebih murah dan spending waktu lebih lama di laut bersama kawan-kawan ramai-ramai, hanya saja kondisi laut sedang tidak memungkinkan saat itu (bulan ini), di mana gelombang laut yang mencapai 4 meter tingginya. Setibanya di sana disambut oleh Ciktur dan Dewi F, sanak famili gue di Belitung. Been a long time, dudes. Kami pun langsung diangkut dengan angkot carteran, sesaat mengelilingi kota Belitung, memperkenalkan lokasi ATM BNI, Mandiri, dan BCA yg sangat dikhawatirkan dari awal2 oleh 6 muda-mudi tadi, kalau-kalau di sana ga ada ATM (riteee…)

    Kami pun menginap di rumah Dewi F, sepupu gue. Hari pertama kami sudah menyambangi pantai Tanjung Pendam dihiasi makanan model tekwan, kelapa muda, dan batagor. Model tekwan-nya enak banget, affirmative. Mulailah esoknya kami melakukan petualangan mengeksploitasi keindahan pantai-pantai Belitung dengan bekal kamera digital. 3 pria dan 3 perempuan bersiap dengan dandanan ala anak pantai, kami pun bersenang-senang!

    Kami setuju dan sepakat kalau pantai yang ada di sana (beberapanya, mostly) sungguh indah dan masih natural. Mohammad Ikwan atau yang dikenal dengan Kuda pun mengamininya, cetusnya “super gokil!”. Gue senang kalau teman-teman gue senang dan menikmati keindahan pantai-pantai Belitung. ;)

    Kemana saja pantai dan daerah yang dikunjungi?

    1. Tanjung Pendam
    2. Teluk Gembira (Gembira Bay)
    3. Batu Lubang
    4. Tanjung Kelayang
    5. Tanjung Tinggi
    6. Kepice
    7. A1
    8. Sekolah SDN Muhammadiyah yang dijadikan lokasi setting film “Laskar Pelangi”
    9. Bukit Batu
    10. Vihara Dewi Kwan Im
    11. Burung Mandi
    12. Bukit Berahu
    13. Pulau Lengkuas
    14. Pulau Burung
    15. Burok Beraye (air terjun)

    Itulah tempat-tempatnya, selama hampir seminggu kami isi dengan jalan-jalan dan menyambangi lokasi tsb. Formasi pasukan ini terdiri Gue (Michael Schumacher lokal), Dina (kasir), Kuda (The man behind photos), Arfin (second driver, Collin McRae cabutan), Sendy K (penasihat perjalanan, Bu Mus-wannabe), Dewi IS (penggembira, penyanyi latar selama perjalanan).

    Lokasi yang paling berkesan adalah Pulau Lengkuas. Pulau-pulau kecil yang tidak terlalu jauh dari Pulau Belitung yang bisa ditempuh kurang lebih setengah jam saja. Di sana ada banguan mercu suar yang juga dijadikan lokasi klip video-nya Nidji untuk soundtrack Laskar Pelangi. 3-4 orang saja yang menghuni pulau kecil nan indah itu. Ga bisa hanya disebutkan saja, tapi harus merasakannya langsung! Tidak akan menyesal dan patut juga dijadikan tempat bulan madu, bagi yang mau bumbu petualangan. Pemandangan matahari terbenam (sunset) pun ga kalah (superb) dengan negeri lain, hanya saja masih banyak mereka yang belum menyadarinya.

    Tidaklah terkira keindahannya, kami pun sangat menikmatinya. Dan keinginan untuk kembali lagi juga tidak kecil. Dan, kami pun tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada Ciktur dan keluarga, Dewi F dan sekeluarga yang telah banyak membantu selama di Belitung. Satu hal yang gue masih kagum adalah keramahan budaya melayu sana, dan issue security yang masih lumayan baik, contohnya masih banyak orang yang meninggalkan kunci motor di motor, saking amannya! Tidak seperti Jakarta atau kota besar lainnya, jangan ditanya!

    Soon or later, we’ll be back. Another season of our adventure!

    The photos :

    Foto-foto lebih lanjut bisa dilihat di Facebook gue.

    Permalink for 'm_d/2009/01/28/Belitung___Great_Sunset_Islands'
  • Liburan Tahun Baru 2009

    Posted: January 2nd, 2009, 11:29pm WIT by Ikez
    TagsTravelling  

    Ke Jogja lagi, suatu kota yang selalu membuat gue ingin kembali, ada banyak kenangan juga terjadi di sana. Kali ini gue bersama Dinoy, perjalanan naik kereta menjadi tidak terlalu menjemukan :) Pertimbangan liburan akhir tahun di Jogja, yaitu menikmati hidangan bakar-bakaran sate dan jagung yang semacam kegiatan rutin setiap malam tahun baru di rumah Dinoy, bertemu dengan mamanya Dinoy, dan merayakan hari jadi pacaran pas di tanggal 1 Januari.

    Hari pertama langsung menyambangi Benteng Vredeburg, di sampingnya ada pesta kuliner makanan jajanan Jogja. Lebih banyak menguasai adalah makanan bakso & sate dengan beragam rasa dan khas. Besok-besoknya juga selama di Jogja diisi dengan kegiatan kuliner, makan dan makan. Tidak lupa dengan makanan Oseng-oseng Mercon! Salah satu makanan favorit gue hehe.. mengasyikkan tetapi besoknya bikin perut meleduk.

    Sayangnya, 5 hari di sana tidak cukup bagi kami menikmati liburan di sana, pula ada hal yang harus dilakuin (Dinoy UAS tanggal 2 Januari) jadi tanggal 1 malem kami harus kembali dan merayakan hari jadi kami di kereta menuju Jakarta.

    I wanna say many thanks to Ibu Wati for her kindness, i’m grateful. Also the Jogja family.

    The photos :

    Permalink for 'm_d/2009/01/02/Liburan_Tahun_Baru_2009'
  • Injury to Victory

    Posted: November 9th, 2008, 5:33am WIT by Ikez
    TagsGeneral  

    Akhirnya gue menulis lagi :D mungkin cairan atau zat-zat blog di dalam tubuh ini sudah terlalu sedikit untuk menulis-nulis apalagi panjang-panjang. Semenjak adanya tren baru yaitu microblogging, lebih banyak meluangkan waktu di hal baru itu. Gue sudah kembali di tanah air tercinta ini, sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa menyambangi benua lain yang letaknya bermil-mil jauhnya dari negeri ini.

    Setibanya di sana, pemandangan yang ada adalah kemiripan dari penduduk atau orang-orang Afrika yang berkepala plontos, berkulit *maaf* gelap/hitam, jika berambut pun nampak keras sekali seperti di-hair spray. Bukanlah hal yang baru karena di sini pun banyak juga orang-orang Negro, bukan? Hanya saja, view dan suasananya tetap saja beda. Gue lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi acara. Keluar kandang pun baru bisa di hari-hari terakhir di sana.

    Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah makanan Nusantara adalah the best. Sebut saja nasi padang, gado-gado, bakso, atau mi instant, sambel ..ah tidak bisa jauh dari makanan-makanan itu jika pergi jauh ke negeri orang. Bayangkan, tiap hari kita hanya disuguhi makanan-makanan ala barat, daging ayam dalam porsi besar, spageti, kentang, dan tentunya rasanya semacam sekedarnya saja. Untungnya ada yang membawa lauk dari Indonesia, seperti sambel ikan teri, rendang, sambel, bahkan popmie :D Sebenernya juga, gue dkk mengharapkan makanan tradisional sana, tetapi nampaknya itu juga menu yang mereka anut dari penjajahnya terdahulu. Dari segi bahasa pun mereka tidak menggunakan bahasa asli tetapi Portunyol (Portugis Spanyol).

    Gue senang bisa berkesempatan pergi ke sana, yang mana membuat iri teman-teman gue yang maenannya ke Eropa atau Amrik. Benua Afrika tentu saja beda, lebih eksotik. Semoga ada kesempatan lain ke benua lain, Brazil mungkin jadi Januari nanti? :D

    Setibanya di Jakarta, kembali menghadapi suasana sumpek dan macet, tetapi tetap saja terasa “menyenangkan”. Malam pertama sepulang dari Mozambique, adalah menyambangi Warung Nasi Padang Sederhana Mampang. Terpuaskan di meja itu, setelah lama mimpi makan enak. :))

    Kemudian, besoknya gue cedera, bahu gue harus menjalani operasi kecil. Adanya penyumbatan pada kelenjar minyak yang mengakibatkan membengkak dan memerah akibat pecahnya kantong kapsul di dalamnya dan mulai terjadi infeksi. Dicurigai awalnya adalah gejala TB, untungnya dokter bedah umum berpendapat lain dan bisa diatasi dengan mudah. Operasi itu menjadi kado buat gue, bisa dibilang sekaligus peringatan dari Atas. Sekarang gue lagi recovery, semoga cepat sembuh total. Amin.

    Permalink for 'm_d/2008/11/09/Injury_to_Victory'
  • Mozambique, Day 1

    Posted: October 13th, 2008, 3:48am WIT by Ikez
    TagsGeneral  

    Melongok ke bawah yang hanya tampak gundukan-gundukan tanah yang membukit setelah beberapa jam perjalanan hanya dipenuhi dengan gelapnya malam, menjelang pagi ke siang gue bisa memandang sebuah bagian dari benua besar di dunia, Afrika.

    Siapa yang bisa menyana gue menjejakkan kaki di tanah Afrika? Bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi staf-staf lain yang sudah duluan atau sering ke luar negeri. But for me, what an experience and adventure!!

    Hari pertama penerbangan mampir dulu ke Changi Airport, 4 jam di sana kemudian dilanjutkan ke Johannesburg selama kurang lebih 10 jam. Selama perjalanan tidak terlalu membosankan, berhubung gue pun sudah ngantuk banget, dan sisanya dihabiskan nonton film yang tersedia, hanya sempat nonton American Beauty dan What Happen in Vegas. Ternyata ada juga film Berbagi Suami, dengan judul kerennya Love For Share.

    Kesan-kesan selama perjalanan menggunakan Singapore Airlines cukup memuaskan dengan pelayanannya ketimbang ketika nantinya naik South Africa Airlines. di SAA permasalahannya bukan pada cantik atau tidaknya si pramugarinya tetapi lebih ke kondisi servis dan pesawatnya. Pelayanan pramugarinya sangat berbeda kelas dengan penerbangan sebelumnya, mungkin itu sudah budaya mereka jadi jika diperbandingkan akan sangat jauh. Well, i just wanna say, it’s lame dudeeee…!

    Tiba di Maputo tidak ada kendala berarti selama pemeriksaan, hanya saja koper besar gue yang masuk bagasi rusak rodanya akibat tukang bongkar muat bagasi seenaknya melempar barang-barang penumpang. Begitulah kondisi di bandara Afrika. So harus memakmuli eh memakluminya.

    Kemudian rombongan lain dari Eropa, Amerika Latin dan Korea berdatangan dan lanjut naik bis ke lokasi acara sekaligus tempat penginapan kami selama 2 minggu (staf dari Indonesia). Tempatnya tidak terlalu jelek pula tidak terlalu baik, baik dari segi ketersediaan colokan listrik, kondisi toilet bahkan mandi pun harus “dick showdown” ga ada gordennya buat nutup ruangan kecil shower. Oh Yes. :))

    Berhubung gue sudah pernah mengalami kondisi lapangan yang kurang nyaman bagi kita-kita orang Asia mungkin juga yang tidak pernah merasakan hidup susah atau ngekos, so ga terlalu dikeluhkan. Ambil ini semua menjadi pengalaman dan petualangan kecil.

    Malam pertama tidak ada nyamuk, dan tidurnya pun gue lelap sekali, sudah 2x lelap tidur siang bangun isya;, tidur malem bangunnya rada siang. Dan berasa nikmat aja, mungkin pengaruh kasurnya yang empuk dan suasana cukup adem di ruangan itu padahal tidak pake AC. Di lokasi ini udaranya tidak terlalu gerah, kalo di luar sana mungkin akan lebih parah.

    Oia, di sini ada lapangan bola, menghadap sungai yang langsung ke laut.

    Segini dulu. Foto-foto menyusul yaa…

    Permalink for 'm_d/2008/10/13/Mozambique__Day_1'
  • Africa, Here I Come!

    Posted: October 11th, 2008, 12:30am WIT by Ikez
    TagsGeneral  

    The time has come! Preparasi sudah dilakukan semenjak seminggu ini. Mulai dari kolor, iPod, komik, novel, Trio Detektif, Koo Pin Hoo sampai dengan lotion anti nyamuk. Walaupun sudah suntik kuning (Yellow Fever) juga di Bandara Halim sebelum Lebaran kemarin, tetap saja gue percayakan Soffel sebagai penangkal gigitan nyamuk, we’ll see apakah manjur apa ga sama nyamuk sana. Paspor+Visa segala macemnya sudah rampung, tinggal tancap ke airport malam ini. Kali ini perjalanannya jauh sekali, melebihi perjalanan haji. Afrika, benua yang hanya sering dilihat di acara-acara flora dan fauna di televisi. Kali ini tidak hanya akan dibatasi oleh tabung TV, tapi menjejakkan kaki di sana langsung!

    Debut gue pertama ke luar dari sebuah negeri ke negeri lain yang berbeda karakter budaya, kebiasaan, warna kulit, bahasa, dsb. Afrika bagi beberapa orang adalah negeri yang eksotik, juga liar. Ada yang iri (dalam artian positif tentunya) akan kesempatan gue menyambangi benua tsb, karena selama ini dia cukup sering travel ke luar negeri tetapi benua ini yang belum kesampaian dihampiri. Well, your turn will come soon or later, my child!

    Ada apa gue ujuk-ujuk ke sana? Dikarenakan ada event yang diselenggarakan oleh organisasi tempat gue bernaung, La Via Campesina. Acaranya berlokasi di Maputo, ibukota Mozambique. Ada agenda Women, Youth dll. Gue ngapain aja? Ya yang pastinya adalah urusan teknikal things, profesi gue semenjak SMA di OSIS bagian Perlengkapan, :))

    Sudah ya, sampai jumpa lagi. Doakan perjalanan aman dan lancar walau nanti pantat bakal panas beberapa jam lamanya di pesawat. Dan doakan kembali ke negeri ini utuh seperti sedia kala.

    PS: akhirnya gue update Wordpress to latest version, setelah setahun ga di-update :P Gue suka dengan navigasi dan tampilan halaman Admin WP yang baru inih, sebelumnya masih katro’.

    PS#2: tadi siang masih nyempetin nonton Laskar Pelangi bersama do’i. Gile aje dari kemarin2 orang Bangka turunan Belitong aja belum nonton, orang Jakarta (kota besar) udah nonton 2-3x!

    Mozambique Map


    Permalink for 'm_d/2008/10/11/Africa__Here_I_Come_'