Hampir setahun yang lalu, proposal untuk membeli kamera digital saya ajukan kepada orang tua Saya. Saat itu saya belum mengerti sama sekali dengan dunia fotografi. Pengetahuan dasar dalam dunia fotografi seperti apa itu diafragma, shutter speed, ataupun ISO belum saya pahami. Saya juga belum mengetahui bahwa terdapat banyak sekali jenis lensa dan kegunaannya. Pokoknya saya benar-benar nekat. Satu hal yang membuat saya nekat mungkin saat itu adalah karena saya sudah lama sekali menganggur. Mencari pekerjaan sangat susah. Mungkin tidak bagi Anda, tapi itulah yang terjadi pada diri Saya. Saya berfikir, jika hanya mengandalkan ijazah, sangatlah susah untuk mendapatkan pekerjaan. Saya berasal dari jurusan Manajemen Pemasaran. Saya menyukai pemasaran. Saya menyukai periklanan. Tapi saya rasa saya hanya suka. Tidak ahli. Sehingga saya tidak dapat menawarkan sesuatu yang bermanfaat untuk ditawarkan kepada perusahaan tentang kesukaan saya ini.
Saya harus mempunyai keahlian. Itu yang ada dalam benak saya. Saat ini memang yang dicari adalah orang yang memiliki keahlian. Banyak yang butuh akuntan, dokter, notaris, pengacara, programmer atau designer. Saya sempat merasa memiliki keahlian dalam bidang design grafis. Belakangan saya sadari tidak. Saya sering bengong sendiri kalau diberikan kertas kosong untuk digambar. Ternyata keahlian saya hanya mensetting. Saya sempat merasa memiliki keahlian dalam webdesign. Ternyata, selama ini dalam membuat website saya lebih sering menggunakan kombinasi Ctrl+C dan Ctrl+V. Saya harus mempunyai keahlian.
Jika saya tidak dapat membuat design yang bagus, setidaknya saya mengetahui apa yang bagus. Kalau Saya dapat menilai hal-hal atau apa-apa yang terlihat bagus, saya berfikir bahwa fotografi adalah hal yang tepat. Karena fotografi hanya membekukan pengelihatan kita. Itu yang terlintas dalam benak saya saat itu. Maka sayapun mulai mengintip-intip dunia fotografi. Browsing di internet adalah salah satu usaha saya. Dan ketika saya makin mantap untuk memasuki dunia ini saya bertanya-tanya kepada saudara saya, yang memang profesional dibidang ini. “Yang penting praktek. Fotografi itu tentang merasakan datangnya cahaya.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Sepertinya saya memang harus mencari tahu sendiri..
Akhirnya tibalah hari dimana akhirnya orang tua saya menyetujui proposal saya untuk berinvestasi dengan membeli kamera. Yapps, berinvestasi. Sebab satu hal argumentasi yang saya berikan kepada orang tua saya adalah kelak saya dapat menekuni suatu profesi, yaitu sebagai fotografer. Selain itu fotografi dapat mendukung profesi lain yang juga masih saya pelajari, dunia webdesign. Saat itu saya memiliki impian untuk menjadi webdesigner. Fotografi pasti memiliki nilai tambah yang dapat saya tawarkan ke client. Dan orang tua saya pun menyetujui dan memberikan dana kepada saya.
Berbekal pengetahuan saya yang minim tentang produk fotografi, saya nekat pergi ke toko kamera. Kalau boleh dibilang, sangat minim. Kalau anda bertanya kamera apa yang sebaiknya dibeli ke sebuah forum. dapat dipastikan anda akan semakin bingung menghadapi pilihan-pilihan. Untungnya berkat kenekatan saya ini, saya mendapatkan kamera yg tepat. Walaupun karena berkonsultasi dengan penjual maka pastinya tujuan utama mereka adalah menjual produk. Dan saya pun dicekoki dengan produk-produk mereka.. **sigh**
Dan sekarang, setelah hampir satu tahun saya memiliki kamera digital, saya merasa perlu untuk membangkitkan gairah saya tentang fotografi. Saat ini, “ingin mendalami foto agar dapat menjadi fotografer dan mencari uang” ternyata tidak dapat membangkitkan gairah saya untuk mempelajari fotografi lebih mendalam.
Saya harus mencintai fotografi..