“Ya, tidak penting.”
“Iya, aku tahu, tapi kamu harus jelaskan.”
“Agama itu kan ekspresi keberimanan manusia, jadi tidak masalah orang mau menganut agama apa pun.”
“Tapi, bukan berarti tidak penting kan?”
“Ya, tidak penting.”
Bingung lagi…
“Maksudku, aku heran kenapa orang suka sekali bertindak atas nama agama, memberi label agama pada apa pun yang mereka lakukan.”
“Maksudnya?”
“Yaa, partai Islam, partai Kristen, penulis Islam, cendekiawan muslim. Lha yang diperjuangkan apa sih?
“Ya agama. Menegakkan ajaran agama di muka bumi.”
“Nah, kan. Agama lagi. Kalau masing-masing pemeluk agama ingin agamanya tegak di muka bumi bagaimana?
“Ya biarlah semuanya tegak, bagus kan?”
“Impossible. Enggak mungkin. Tegaknya satu agama meniscayakan inferiornya agama lain. Itu hukum alam. Akhirnya akan terjadi pergolakan terus-menerus. Dunia akan hancur.”
“Memang dunia akan menuju kehancuran kok.”
“Jangan sampai.”
“Pasti sampai.”
“Tugas manusia untuk mencegah kehancuran itu.”
“Hebat benar manusia. Dalam ilmu kimia, ada yang namanya konsep entropi, delta S. Menurut konsep itu, setiap sistem akan cenderung menuju kekacauan, chaos. Nah, dunia ini termasuk sistem itu. Kiamat adalah puncak kekacauan itu.”
“Wah, kamu nihilis. Kiamat itu peringatan, bukan janji”
“Aku realistis.”
“Ekstrim.”
“Kamu tuh, yang bilang agama itu nggak penting, baru ekstrim.”
“Lha, jadi kenapa sih manusia diciptakan kalau pada akhirnya toh dunia akan hancur?”
“Az-Zariaat: 56.”
“Beribadah pada Allah?”
“Yup.”
“Hahaha. Kamu naif banget. Allah tidak perlu diibadahi. Kekuasaan-Nya tidak berkurang jika tidak diibadahi.”
“Kamu tuh yang terlalu berpikir pragmatis. Ibadah itu bukan melulu menyembah-nyembah, memuji-muji, berdoa, sholat. Bersosialisasi, membantu sesama juga ibadah. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan juga ibadah, paling penting malah.”
“Nilai-nilai kemanusiaan kan bukan monopoli Islam? Setiap agama juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.”
“Maka itu, agama penting kan? Dengan beragama, berarti kita berusaha menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.”
“Nggak kebalik tuh? Mestinya, dengan menegakkan nilai kemanusiaan berarti kita telah menegakkan ajaran agama.”
“Nilai kemanusiaan sendiri sebenarnya relatif.”
“Relatif bagaimana? Universal dong.”
“Batas-batas nilai kemanusiaan itu apa? Piagam PBB? Piagam HAM? Banyak juga versinya. Seorang pelacur, misalnya, apakah pekerjaannya menjunjung nilai kemanusiaan atau tidak?
“Ya selama mereka tidak mengganggu manusia lainnya, berarti tidak mengotori nilai kemanusiaan. Bukankah label kotor, najis, lacur, dan sebagainya itu ditempelkan oleh orang lain? Bukankah dia bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya? Bukankah masih banyak pria yang memerlukan mereka? Di mana letak pertentangan mereka dengan nilai kemanusiaan?”
“Absurd.”
Kembali diam…
“Tapi, kenapa ya jika setiap umat beragama menjaga nilai-nilai kemanusiaan dunia tetap akan hancur?”
“Jawabannya bisa dua macam. Pertama, tidak semua umat beragama menjalankan ajaran agamanya. Kedua, nilai manusia bukan pada bagaimana dia bisa memperbaiki dunia, melainkan pada usaha yang telah dilakukannya untuk tetap bertahan, istiqomah di tengah dunia yang hancur. Yang dinilai adalah proses, bukan hasil.”
“Jadi, semua agama benar, menurutmu?” tanya Ridwan lagi.
“Tidak.”
“Lho, kamu bilang setiap agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan?”
“Iya, tapi agama yang benar ya tetap agama yang aku peluk. Lainnya tidak benar.”
“Wah, itu sih klaim.”
“Lha iya, memang klaim.”
“Kebenaran tidak boleh dimonopoli dong.”
“Kebenaran adalah monopoli masing-masing individu. Setiap orang menganut kebenarannya sendiri-sendiri.”
“Wah kacau kalau begitu.”
“Yang kacau adalah bila masing-masing memaksakan kebenaran yang dianutnya pada orang lain. Menurutku, inilah yang akan terus-menerus terjadi; pemaksaan kebenaran oleh satu kelompok manusia kepada manusia lain, bahkan pada alam semesta.”