ADA dua kutipan menarik yang saya baca hari ini, terkait kemacetan (di Jakarta) yang menyita ruang media belakangan ini.
Pertama dari Darmaningtyas, peneliti di Masyarakat Transportasi Indonesia, yang menuding maraknya protes pembangunan koridor busway terkait dengan kepentingan industri otomotif:
Penyebab utama kemacetan bukan pembangunan koridor busway, melainkan kendaraan pribadi yang terlalu banyak.
Kedua, dari Goenawan Mohamad lewat Catatan Pinggir Majalah Tempo Edisi. 38/XXXVI/12 - 18 November 2007:
Adapun modal juga yang membuat mobil berubah: ia tak sekadar sebuah alat transportasi; ia juga sebuah pesona. Dari waktu ke waktu mobil tampil seakan-akan baru: ia berubah karena sebuah ”musim” berubah dan konon selera juga berubah. Pada saat yang sama, komoditi yang memancarkan pesona itu bertaut dengan hasrat untuk memiliki. Dan karena pesona itu selalu merangsang kekurangan, ada dorongan untuk terus-menerus memiliki—tak hanya satu.
Kedua pendapat itu saling menguatkan dan saya sepakat. Betul, proyek busway memang jauh dari sempurna, tetapi masalah utamanya sama sekali bukan di situ. Ketika kosa kata busway belum terdengar beberapa tahun silam, Jakarta sudah macet parah. Kemudian timbul wacana agar pemerintah meningkatkan layanan moda transportasi yang nyaman agar banyak orang berpaling untuk naik angkutan umum.
Busway menjadi salah satu pilihan (pilihan lainnya di antaranya monorel, namun karena sifat monorel yang kurang masif dan masalah administrasi yang berbau korupsi akhirnya “ditinggalkan”). Koridor awal busway (Blok M-Kota) harus diakui amat membantu bagi orang banyak, termasuk saya. Kemudian muncul koridor-koridor lain, dan masalah pun bermunculan.
Busway amat nyaman. Akan tetapi kenyamanan itu tidak mampu menarik pengguna kendaraan pribadi karena ternyata masalahnya bukan hanya rasa nyaman itu. Goenawan Mohamad tepat menyebut bahwa mobil adalah sebuah pesona. Dia telah menjadi gaya hidup. Jujur saja, ketika kita semua punya uang agak lebih, yang terpikir ya mobil, atau rumah.
Sementara itu, negara kita tidak punya kebijakan dan hukum untuk membatasi umur kendaraan dan aturan mengenai daur ulang. Maka, mobil-mobil lama tetap berkeliaran, mobil-mobil baru terus diproduksi. Di sisi lain, pertumbuhan pembangunan jalan amat tidak seimbang. Dan memang tidak akan pernah seimbang.
Solusinya? Entahlah. Saya cuma berharap kita tidak terbawa emosi dalam menentukan sikap. Dan ingat kata AA Gym
: marah atau tidak marah, macet tetap terjadi. Jadi, buat apa marah?