“Ibu tahu, kenapa setiap orang ingin sekali meruapkan kegetiran hidupnya pada orang lain? Bukankah, kata ibu, merasakan saja sudah cukup?”
“Karena dengan berbagi kesedihan, kita merasa tidak sendirian?”
“Betul sekali. Manusia cenderung membenci kesendirian. Juga dalam merasakan. Bahagia, derita, senang, sedih, semuanya akan lebih menyenangkan jika dirasakan atau dialami bersama. Entah dengan pasangan kita, sahabat, bahkan dengan orang lain yang tidak kita kenal sekalipun. Malahan, banyak orang berpendapat berbagi cerita dengan orang yang tidak dikenal lebih terasa tidak ada beban. Kesedihan itu seperti rawa-rawa yang pelan-pelan menenggelamkan semangat hidup seseorang. Orang yang seperti itu butuh sesuatu untuk berpegang, agar tidak tenggelam lebih dalam lagi.”
*Ini adalah fragmen kedua setelah fragmen yang pernah saya tulis di sini. Keduanya tidak berhubungan karena diambil dari dua cerita yang berbeda. Saya akan menuliskan fragmen-fragmen serupa yang saya nukil dari cerpen atau puisi saya, baik yang sudah diterbitkan maupun yang belum, juga dari coretan-coretan yang belum rampung. Tujuannya? Sekadar iseng di tengah-tengah kebuntuan menulis blog ![]()