Buruk search result Google dibelah. Begitu tulis Sonny di akun Twitternya, @snydez. Kehebohan ini bermula ketika seseorang melakukan pencarian di www.google.co.id dengan kata kunci “kebaikan SBY” lalu keluarlah saran dari Google: Mungkin maksud Anda adalah: keburukan SBY. Kehebohan ini semakin menjadi ketika seorang “pakar” (you-know-who) mengatakan bahwa Google bisa dibelokan oleh seseorang yang punya kemampuan, tapi tidak digunakan untuk hal yang positif. Benarkah demikian?
Ketika "Kebaikan SBY" dipertanyakan Google
Jika Anda coba tuliskan kebaikan Aburizal Bakrie atau kebaikan Surya Paloh maka Google juga menyarankan hal yang sama. Lucunya… tidak untuk kebaikan Nurdin Halid atau kebaikan Gayus
Wah, jangan-jangan Google diintervensi Nurdin Halid dan Gayus nih! Haha…
Kebaikan Aburizal Bakrie juga dipertanyakan Google
Jangan salah, sebelumnya Google tidak menyarankan hal yang sama untuk kebaikan Aburizal Bakrie. Hal ini bisa dilihat di sini:
Saya lalu memasukkan kata kunci “kebaikan Aburizal Bakrie”, “kebaikan Sri Mulyani”, “kebaikan Prabowo”, “kebaikan Megawati”, “kebaikan Gayus” dan “kebaikan Nurdin Halid”, untuk mengecek apakah Google juga akan memberikan saran untuk kata kunci yang berbeda. Ternyata tidak. Google tak memberikan saran apa pun, dan semua kata kunci untuk nama-nama itu tetap dianggap relevan. Rusdi Mathari – Ini Kebaikan SBY menurut Google
Mengapa hal ini bisa terjadi? Nah, mari kita mengintip sedikit cara kerja fitur ‘Did you mean‘ si Google.
Features: ‘Did you mean’
Google uses spell checking software to check queries against common spellings of each word. When we determine an alternative query that we think might improve the search results, you’ll see “Did you mean: (more common spelling)” at the top of your search results page. For example, if you search for [ foot ball ], at the top of the search results page, you’ll see “Did you mean: football,” a more common spelling of the game’s name. Please note that our spell check feature is completely automated, and we cannot make manual changes to individual queries. [source]
Fitur ‘Did you mean‘ ini sebenarnya dipasang untuk mengantisipasi typos atau salah ketik. Cara kerjanya bisa berdasarkan kata-kata yang umum terdapat dalam kamus atau merupakan hasil pembelajaran mesin Google terhadap statistik pencarian. Maksudnya begini: ketika Anda mencari sesuatu dan tidak menemukan hasil, kemudian Anda menyadari telah salah mengetikkan kata, memperbaikinya, kemudian mencarinya kembali dan menemukan hasilnya, maka ini disimpan sebagai sebuah ‘koreksi’. Kemudian pola ini terjadi jutaan kali sehingga akan disimpan sebagai koreksi yang paling umum dan akan ditampilkan di halaman hasil pencarian Google sebagai ‘Did you mean‘.
Dalam kasus ini: seseorang mengetikkan kebaikan SBY lalu tidak mengklik hasil pencarian kemudian memperbaikinya menjadi keburukan SBY, mencari kembali dan mengklik hasil pencarian maka Google menduga hasil pencarian pertama tidak relevan dan hasil pencarian kedua dianggap sebagai yang benar. Google mengingatnya sebagai sebuah “koreksi”. Jika pola ini terjadi berulang-ulang kali maka Google mengingatnya sebagai koreksi yang umum.
Hal ini juga didasarkan pada kemiripan kata. Beda kebaikan dan kuburukan hanya pada ai dan uru, bukan berdasarkan lawan kata. Jadi koreksi tidak bisa dilakukan pada kata kebaikan dan kejahatan karena kedua kata tersebut terlalu berbeda.
Seberapa banyak sih orang mencari kebaikan SBY, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dll… lalu menggantinya sebagai keburukan? Mengapa yang awalnya tidak muncul koreksi menjadi muncul koreksi? Mengapa tidak untuk Nurdin Halid atau Gayus? Atau belum?
Semoga ulasan di atas mampu menjawab semua pertanyaan itu. Saya tidak mau berspekulasi terlalu jauh… Mungkin ini yang dianggap si pakar sebagai Google bisa dibelokan oleh seseorang yang punya kemampuan, tapi tidak digunakan untuk hal yang positif.
Related Posts:


