About

Planet Bloggerian adalah aggregator daripada tulisan-tulisan members Forum Bloggerian.

Subscribe

Untuk mendaftar, menghubungi kami, kasih kritik, saran dll, silakan isi Contact Form.

Desclaimer

The intellectual property of the content that is found in this website belongs exclusively to the origin authors.

Statistics

Bloggerian Top Hits

Feeds

3661 items (3657 unread) in 34 feeds

  • Rate My Post, Please…

    Posted: March 25th, 2010, 6:23pm WIT by Deddy Andaka
    TagsBlog  

    Saya baru saja menginstall plugin GD Star Rating di blog ini dengan harapan sahabat bloggers (yang super  ) dapat merating tulisan-tulisan saya yang ada. Setiap rate akan sangat berarti dalam usaha saya untuk menyajikan tulisan yang lebih baik. So, rate my post please

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2010/03/25/Rate_My_Post__Please%e2%80%a6'
  • Antara Idealisme dan Materialisme Blog

    Posted: March 21st, 2010, 4:28am WIT by Deddy Andaka
    TagsBlog  

    Minggu lalu, ketika saya ke Makassar saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan salah seorang blogger Makassar, daeng Achmad Sulfikar di Kafe Bloggers. Meski baru pertama kali bertemu langsung, tapi rasanya sudah kenal lama. Maklum, saya sudah terbiasa membaca tulisan-tulisan blognya dan sempat beberapa kali kontak via Facebook.

    Obrolan dimulai dari seputar pekerjaan, keluarga sampai tentang idealisme dan meterialisme blog. Hal ini terkait dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Menipu Pengunjung dengan Auto Content“.

    Memang tak dapat dipungkiri bahwa ada sebuah garis imajiner yang membatasi antara idealisme dan materialisme. Di satu sisi, untuk dapat memoneytize blog, kita dituntut untuk dapat mendatangkan traffic sebanyak-banyaknya, pagerank setinggi-tingginya, atau alexa rank serendah-rendahnya. Tentu saja hal tersebut tidaklah mudah. Dan akan menjadi sebuah “godaan yang menggiurkan” ketika didalam kesulitan tersebut ada tawaran solusi yang instant. Sebuah shortcut. Jalan pintas yang dapat memudahkan jalan-jalan terjal menuju puncak. Meski harus mengorbankan sisi idealisme kita sebagai seorang blogger.

    Didi Suprapta pernah menulis, “Idealisme kadang mengesampingkan materialisme.” Benar, dan perlu ditambahkan: Materialisme juga dapat mengesampingkan idealisme.

    Auto Content bisa jadi “cara instant” untuk mendatangkan traffic ke blog Anda. Tapi bukan pengunjung. Mungkin materialisme saya masih terbalut sedikit idealisme. Ketika saya mencoba sesuatu, yang meski menguntungkan saya, namun merugikan orang lain, saya tidak akan melanjutkannya.

    Sebuah dilema yang kontras antara idealisme dan materialisme ada pada profesi dokter. Di satu sisi, dokter memberi pertolongan kepada orang lain, berusaha menyembuhkan orang yang sakit. Namun di sisi lain ada sebuah “biaya” atas jasa yang dokter berikan. Bisa tidak membayangkan bagaimana rasanya menarik bayaran dari orang sakit? Untuk yang satu ini saya sepakat dengan apa yang pernah disampaikan dr. Hariyasa Sanjaya, Sp.OG dimana dokter hendaknya memberikan yang terbaik, maka “biaya jasa” tersebut akan menjadi hak yang sepatutnya diterima dokter. Pasien tidak dipandang sebagai obyek yang mendatangkan materi, namun lebih penting adalah sebuah kewajiban untuk memberikan pelayanan yang terbaik yang harus dijalankan.

    Ada kewajiban, ada hak.

    Dari hal tersebut saya menarik kesimpulan, sebenarnya idealisme dan materialisme bisa kok hidup berdampingan, termasuk dalam dunia blog. Berikan yang terbaik untuk pengunjung, tulisan yang memang menyediakan apa yang ada menjadi ada (bukan yang tidak ada seolah-olah ada), maka nanti hasil yang Anda dapat dari memoneytize blog Anda akan menjadi hak yang sepatutnya Anda terima.

    Saya dokter, sekaligus blogger. Bisa membayangkan dilema saya? |

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2010/03/21/Antara_Idealisme_dan_Materialisme_Blog'
  • Menipu Pengunjung dengan Auto Content

    Posted: March 10th, 2010, 12:53am WIT by Deddy Andaka
    TagsBlog  

    Beberapa hari yang lalu seorang teman menceritakan tentang pengalamannya dengan mesin pencari Google. Ketika dia sedang mencari informasi, muncullah sebuah website yang cukup sering nongkrong di halaman pertama untuk beberapa keyword yang dia coba. Namun setelah dia berkunjung ke sana, dia cukup kecewa karena ternyata tidak ada informasi yang dia cari. Yang ada malah link-link hasil pencarian dari mesin pencari Google. Suatu informasi yang bisa Anda dapat langsung dari Google! Anda akan dibawa berputar-putar di situs tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, ada situs yang bila linknya diklik hanya akan menampilkan halaman serupa, tidak seperti Google yang membawa kita ke situs sebenernya.

    Matt Cutts, kepala Google’s Webspam team, sempat menyebutkah hal seperti ini dalam tulisannya yang berjudul “Search results in search results“. Kita mengenalnya dengan Website Auto Content. Wow… apalagi ini?

    Sebelum membahas lebih lanjut perlu saya tekankan hal ini: Seperti halnya kita mengenali penyakit AIDS agar kita bisa menghindari penyakit tersebut, begitu juga Auto Content. Meski saya tidak bermaksud mengidentikkan Auto Content dengan hal-hal negatif, penyalahgunaan Auto Content dapat merugikan user mesin pencari dan juga… website Anda sendiri!

    Auto Content atau lengkapnya Auto-Generated Content adalah suatu teknik membuat konten secara otomatis dari berbagai sumber, kadang memang ada yang berguna, namun sayangnya kebanyakan para pembuat situs itu hanya mengambil hasil pencarian di Google kemudian menampilkannya di situs mereka. Karena beberapa faktor kelemahan Google dalam menyaring situs spam seperti ini, semakin lama akan semakin bertambah situs Auto Content yang akan menghiasi halaman pencarian Google. Beberapa dari mereka yang menggunakan teknik ini mengatakan kalau hasilnya cukup menakjubkan, bisa menaikkan traffic sampai buuanyak kali lipat dalam hitungan jam sampai hari.

    Tergoda dengan cara instant ini, maka banyak orang yang akhirnya ikut-ikutan memasang Auto Content tanpa tahu efek buruknya. Bahkan beberapa memasang Auto Content di domain pribadi mereka. Bayangkan saja jika sampai dibanned Google, situs mereka akan hilang atau tampil buruk di mesin pencari.

    “Menurut saya, hakikat SEO (Search Engine Optimization) adalah: mengoptimalkan apa yang telah ada dan yang belum ada menjadi ada, bukan yang tidak ada dibuat seolah-olah menjadi ada -dan tidak membuat para pencari informasi berputar-putar di situs tersebut.”

    Celakanya, hal terakhir itu yang justru banyak dilakukan pengguna Auto Content. Mereka tidak benar-benar menyediakan informasi, namun membuat informasi tersebut seolah-olah ada di situs mereka. Tentu saja hal ini justru merugikan pengguna mesin pencari, terutama pengguna Google yang tidak begitu mengerti.

    Bagaimana kita mengenali Website Auto Content?
    Mudah saja! Sampai tulisan ini dibuat, format website Auto Content di mesin pencari umumnya adalah seperti ini:

    www.namadomain.com/search/keyword1+keyword2+keyword3+dst

    Tidak menutup kemungkin akan berkembang format baru nantinya (seperti mengganti tag “search” dengan tag yang lain). Jadi, ketika saya menemukan URL seperti itu saya akan berpikir 1000 kali untuk mengekliknya. Ini yang saya sebutkan di atas bahwa Auto Content dapat merugikan website Anda sendiri. Brand website Anda akan jatuh karena telah dicap sebagai Website Auto Content.

    Mungkin banyak yang berpendapat, “Ah… peduli apa branding. Yang penting ranking dan traffic blog saya naik”. Yakin? Untuk traffic, Google sandbox rasanya masih cukup luas menampung website-website yang “nakal.” ) Sedangkan untuk ranking, Google jelas-jelas menyebutkan hal ini:

    Google will take action against domains that try to rank more highly by just showing scraped or other auto-generated pages that don’t add any value to users. Examples include:
    • Auto-generated content: Content generated programatically. Often this will consist of random paragraphs of text that make no sense to the reader but that may contain search keywords.

    Dan sebagai pamungkasnya, Google telah membuka sebuah page yang dapat digunakan oleh siapa saja pengguna Google untuk melaporkan situs-situs yang dianggap spam di [https:]

    Cara lain untuk mengenali website Auto Content adalah dengan cara membandingkan antara umur domain dengan jumlah halaman yang terindex. Kalau domain baru 1 tahun rasanya mustahil kalau page yang terindex sampai jutaan kan?

    Dari sebuah sumber yang dapat dipercaya, sudah ada gerakan melisting situs-situs seperti ini. Domain .co.cc adalah penyumbang terbanyak untuk situs Auto Content. Posisi kedua diduduki oleh domain .info. Dan parahnya, domain .com sudah mencapai 200 lebih situs. Hmm, kalau .com aja sudah 200-an, kira-kira berapa ya jumlah .co.cc dan .info?

    Sekedar mengingatkan, banyak layanan yang dulu di larang di Indonesia sekarang sudah dipermudah (seperti verifikasi Paypal misalnya). Saya yakin… kita semua tidak ingin melihat Indonesia kembali dicap negatif. Kalau dulu masuk negara top carder, pencuri data kartu kredit, jangan sampai sekarang jadi negara spammer.

    Dan jangan sampai Google melihat sebelah mata untuk membuka layanan-layanan baru di negara kita tercinta ini. Indonesia bukan milik kita, bukan warisan kita… tapi nama Indonesia titipan untuk anak cucu kita…

    Apa yang Anda ingat tentang “Somalia”…  negara bajak laut…

    Apa yang Anda ingat tentang Indonesia … negera spammer? Jangan sampai deh!

    Pilihan semua kembali pada Anda. Saran saya, JANGAN MENIPU PENGUNJUNG (meski kita tahu All SEO’ers are Liar). Optimalkan apa yang memang ada. Atau kalau ada yang nyasar ke website Anda dengan keyword tertentu, selama itu masih relevan, sediakan saja informasinya.

    CATATAN: Postingan ini tidak bermaksud memojokkan penyedia dan pengguna Auto Content. Hanya sebuah postingan dari sudut pandang pengguna mesin pencari yang menginginkan hasil pencarian yang lebih baik. Jika tidak berkenan mohon abaikan saja. Terima kasih!

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2010/03/10/Menipu_Pengunjung_dengan_Auto_Content'
  • Verifikasi Paypal dengan Rekening Bank (Tanpa Kartu Kredit)

    Posted: March 5th, 2010, 3:51am WIT by Deddy Andaka
    TagsTips  

    Hehe… sepertinya judul di atas cukup mewakili isi dari postingan berikut. Iya, sejak awal tahun 2010 ini rekening Bank-bank yang ada di Indonesia sudah bisa digunakan untuk verifikasi Paypal. Tanpa kartu kredit! Kalau sebelumnya harus memiliki kartu kredit terlebih dadulu; atau bisa juga dengan VCC (Virtual Credit Card), sekarang sudah tidak perlu lagi. Cukup dengan rekening tabungan di Bank sudah bisa memiliki account Paypal yang verified! Legal pula…

    Caranya pun cukup mudah:

    1. Tambahkan account Bank Anda ke account Paypal di My Account > Profile > Add/Edit Bank Account, lalu klik ADD.
    2. Setelah itu Anda akan diminta untuk mengisi data Country, Name on account, Bank name, Bank Code dan Account number. Untuk Name on account harus sama antara nama rekening Bank dan nama di Paypal. Untuk Bank name dan Bank Code dapat dilihat di sebelah kotak Bank code. Atau bisa juga diakses di Daftar Kode Bank di Indonesia yang diterima Paypal (login terlebih dahulu ke Paypal untuk melihat halaman tersebut), setelah itu CONTINUE. Nah, tahap menambahkan rekening bank ke Paypal cukup sampai di situ.
    3. Untuk verifikasi, bisa dilakukan dari My Account > Overview,  lalu bisa klik status verifikasinya. Ikuti langkah-langkah yang ada, nanti Paypal akan mengirimi uang ke rekening Anda (ada 2 transaksi), prosesnya bisa 2-4 hari, jumlah kedua nilai transaksi tersebut digunakan untuk verifikasi bahwa account Anda memang benar-benar dapat dikirimi uang. Hehe…

    Yep, sesederhana itu. Mudah-mudahan bisa diikuti meski tanpa screenshot. Setelah Paypal Whistlist akhir tahun lalu, proses verifikasi Paypal lewat rekening Bank ini cukup membawa hawa segar bagi pencari $ di Indonesia.

    Ah iya, klo sudah berhasil memverifikasi Paypal Anda, saya ngga keberatan kok kalau ditraktir secangkir kopi lewat tombol di bawah ini. Hehe… ;)


    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2010/03/05/Verifikasi_Paypal_dengan_Rekening_Bank__Tanpa_Kartu_Kredit_'