About

Planet Bloggerian adalah aggregator daripada tulisan-tulisan members Forum Bloggerian.

Subscribe

Untuk mendaftar, menghubungi kami, kasih kritik, saran dll, silakan isi Contact Form.

Desclaimer

The intellectual property of the content that is found in this website belongs exclusively to the origin authors.

Statistics

Bloggerian Top Hits

Feeds

3756 items (3752 unread) in 34 feeds

  • Officially 27: Renungan Tentang Kematian

    Posted: July 27th, 2009, 9:36pm WIT by Deddy Andaka, dr
    TagsRenungan  

    Hari ini saya tepat berusia 27 tahun. Berbicara tentang ulang tahun, sesungguhnya kita dapat melihatnya dari dua sisi. Pertama, sudah seberapa lama kita menjalani hidup. Kedua, sudah seberapa dekat kita dengan kematian. Iya, KEMATIAN! *sengaja saya tulis dengan huruf kapital* Bagi sebagian orang, berbicara tentang kematian masih dianggap tabu, namun menurut saya hal seperti ini justru harus sering kali kita renungkan agar kita dapat lebih menghargai lagi yang namanya “kehidupan”.

    Mungkin dapat dianalogikan seperti gambar di atas, sebuah kapal laut berangkat dari dermaga (A) menuju ke arah pulau (C). Ketika kapal laut berada di titik tengah (B), maka kapal tersebut dapat dikatakan semakin menjauhi dermaga dan secara bersamaan mendekati pulau tujuan. Yang membedakan dengan kehidupan yang kita jalani adalah kita tidak tahu kapan kita akan sampai di pulau seberang. Mungkin sepuluh tahun lagi. Mungkin setahun. Mungkin sebulan lagi. Mungkin besok. Atau nanti. Tidak ada yang tahu…

    Ajahn Chah dalam bukunya “No Ajahn Chah” menyebutkan:

    Our birth and death are just one thing. You can’t have one without the other. It’s a little funny to see how at a death people are so tearful and sad, and at a birth how happy and delighted. It’s delusion. I think if you really want to cry, then it would be better to do so when someone’s born. Cry at the root, for if there were no birth, there would be no death. Can you understand this?.

    Yang kalau diterjemahkan kurang lebih begini: Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini?

    Memang terdengar ekstrim, namun kalau direnungkan kalimat di atas sungguh memiliki makna yang dalam sekali. Pertanyaannya adalah, “Sudah siapkah Anda ketika kematian datang menjemput?”.

    Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-rang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini? Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2009/07/27/Officially_27__Renungan_Tentang_Kematian'
  • Web 3.0 : Tahu Kemana Harus Mencari

    Posted: July 24th, 2009, 3:15am WIT by Deddy Andaka, dr
    TagsWeb 3.0  

    Di artikel sebelumnya saya menyebutkan salah satu ciri khas dari Web 3.0 adalah “Kenapa harus mencari (searching) kalau Anda bisa langsung menemukannya?”. Meski demikian, bukan berarti kita sudah tidak memerlukan mesin pencari lagi. Yang membedakan adalah kita tahu kemana harus mencari!

    Bayangkan bila Google atau Bing adalah sebuah perpustakaan yang besar dan lengkap. Hampir semua buku dapat ditemukan di sana. Sayangnya banyak buku yang antara judul dan isinya tidak berhubungan. Atau banyak buku yang ditulis oleh entah siapa. Kalau Anda sedang menulis suatu karya ilmiah tentu saja hal ini menjadi masalah besar.

    Saya setuju dengan pendapat Afwan Auliyar, “Era Web 3.0 adalah era kepercayaan“. Menurut saya, lebih baik Anda mendapatkan 1 visitor yang percaya pada kredibilitas Anda daripada 100 visitor dari mesin pencari namun tidak mempercayai apa yang Anda tulis.

    Lalu, masihkah SEO diperlukan? Jawaban saya adalah: masih. SEO masih diperlukan sebagai penunjuk jalan ketika pertama kali kita ingin pergi ke suatu tempat. Namun begitu kita sudah mengetahui alamat yang dituju dan kita merasa betah di sana, kunjungan berikutnya mungkin kita sudah tidak memerlukan penunjuk jalan itu lagi.

    Misalnya begini, dulu kalau saya ingin mencari artikel ataupun jurnal-jurnal kedokteran saya akan searching di Google. Hasilnya tentu sangat beragam. Terkadang saya menemukan tulisan yang bagus namun tanpa identitas penulis yang jelas. Atau pernah juga dibawa ke situs yang malah tidak berhubungan dengan apa yang saya cari.

    Sampai akhirnya saya mengenal HighWire Press, sebuah proyek dari Perpustakaan Universitas Standford yang khusus memuat artikel dan jurnal-jurnal dari majalah atau sumber-sumber yang dapat dipercaya. Tentu saja hal ini akan menghemat waktu saya untuk memilah-milah ‘artikel sampah’ (maaf) di Google. Berikutnya sudah jelas, bookmark that page!

    Untuk alasan yang sama, kedepannya mungkin orang sudah tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu di mesin pencari untuk sekedar mencari lirik lagu maupun berita-berita terkini.

    *Gambar dibuat dengan Wordle.net*

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2009/07/24/Web_3.0___Tahu_Kemana_Harus_Mencari'
  • SEO is Dead

    Posted: July 18th, 2009, 4:14am WIT by Deddy Andaka, dr
    TagsSearch Engine Optimisation  

    You better not cry
    You better not pout
    I’m telling you why
    SEO is dead!

    Mungkin belum mati, tapi akan. Mungkin tidak benar-benar mati, tapi sekarat. Beberapa hari yang lalu seorang sahabat yang sedang semangat-semangatnya ‘making money online‘ bertanya kepada saya mengenai SEO (Search Engine Optimization -red) yang diyakininya akan dapat meningkatkan traffic ke blog yang sedang dikembangkannya. Walau pun saya bukan pakar SEO, saya pun membagi beberapa hal-hal dasar yang saya ketahui. Kalau mau lengkapnya sih bisa langsung tanya-tanya ke Master SEO-nya aja )

    Menurut saya, SEO sedang di ambang kematian. Sekarat. Dulu  SEO memang sangat efektif untuk meningkatkan traffic, tapi satu atau dua tahun lagi mungkin sudah tidak lagi.

    Apa yang diharapkan dari SEO? Kalau Anda berjualan produk, Anda tentu mengharapkan orang-orang searching di Google untuk suatu produk lalu mampir ke situs Anda dan melakukan transaksi. Kalau Anda ingin meningkatkan traffic, Anda tentu mengharapkan orang-orang searching di Google akan suatu berita dan melihat situs Anda di peringkat 1 lalu melakukan kunjungan ke situs Anda. Apa iya seperti itu?

    Saya teringat obrolan dengan sahabat saya, Widarta (yang ini juga pakar SEO), kira-kira setahun yang lalu. Tentu saja obrolan tentang SEO. Waktu itu dia menyebut SEO seperti seekor makhluk purba. Hmm… kalau begitu, seharusnya sudah punah ya ) Begitu cara dia menggambarkan bahwa SEO sudah begitu ketinggalan zaman.

    Kita mengenal Web 1.0, Web 2.0 dan yang akan datang adalah Web 3.0. Kalau kita membaginya dalam urutan waktu, bisa kita gambarkan kalau Web 1.0 itu era sebelum tahun 2000. Zamannya situs-situs internet masih terlalu statis, begitu egois dan begitu membosankan! Lalu trend bergeser ke Web 2.0. Dikatakan dari tahun 2001 sampai 2010. Ini zamannya situs-situs internet yang dinamis dan tidak egois. Ini zamannya “berbagi”.

    Nah, sekarang kita sudah ada di penghujung Web 2.0 menuju ke Web 3.0. Apa sih yang membedakan? Dalam Web 2.0 semua orang bisa berbagi. Setiap orang bisa menjadi pakar. Lalu muncul suatu masalah, “kredibilitas”. Seberapa kompeten orang tersebut menulis suatu hal. Seberapa valid informasi yang mereka bagi. Hal-hal seperti ini justru kita temukan pada Web 1.0.

    Jadi menurut saya, Web 1.0 + Web 2.0 = Web 3.0!

    Di sinilah cikal bakal kematian SEO. Salah satu ciri khas dari Web 3.0 adalah “Kenapa harus mencari (searching) kalau Anda bisa langsung menemukannya?”

    1) Bila Anda ingin membeli suatu produk, mana yang lebih Anda ikuti, referensi dari sebuah situs yang Anda dapat dari hasil searching dimana Anda tidak mengenal “kredibilitas” penulisnya atau referensi dari seorang teman yang sudah Anda kenal dengan baik?

    2) Bila Anda ingin mencari berita tentang pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton misalnya, apakah Anda searching dulu di Google atau langsung berkunjung ke situs-situs berita macam detik.com atau Liputan 6?

    Kalau Anda memilih untuk membeli lewat referensi seorang teman atau langsung menuju portal-portal tersebut, mungkin kematian SEO memang benar-benar sudah dekat.

    Sebenarnya masih ada cara agar SEO tidak keburu mati. Yaitu dengan tidak melakukan tehnik-tehnik Black Hat SEO. Stop copy paste tulisan orang. Stop nembak keyword yang tanpa isi. Buatlah hasil pencarian Google menjadi wajar bagi mereka yang ingin mencari informasi. Dengan demikian maka kepercayaan orang-orang terhadap mesin pencari akan kembali. Kalau tidak ya sudah… Kenapa harus mencari (dengan hasil yang belum tentu memuaskan) kalau Anda bisa langsung menemukannya?

    R.I.P SEO
    Selamat datang Web 3.0!

    Image taken from seoconsultants.com

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2009/07/18/SEO_is_Dead'
  • Selamat Bergabung di Klub “Kapan Nyusul?”

    Posted: July 7th, 2009, 9:16pm WIT by Deddy Andaka, dr
    TagsPersonal life  

    Lega – itulah yang kami rasakan setelah serangkaian acara pernikahan dapat kami lewati dengan baik. Persiapannya sudah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu, tepatnya setelah acara lamaran di Surabaya tanggal 19 Oktober 2008. Hmf… mempersiapkan pernikahan memang tidaklah mudah. Apalagi ditambah padatanya kesibukan di Rumah Sakit, serasa persiapan sekian bulan itu ada aja yang kurang. Makanya, setelah acara 28 Juni kemarin saya dan Martha legaaaaaa banget! )

    Mengenai judul di atas, mungkin ada yang bertanya-tanya, “Apa sih maksudnya Klub Kapan Nyusul?“. Biar sedikit nyambung, mungkin perlu dibaca juga postingan tahun lalu waktu saya berulang tahun. Ringkasnya, “Kapan nyusul?” adalah pertanyaan favorite orang-orang yang uda merit ke orang-orang yang mereka pikir sudah layak merit tapi belum merit-merit juga. Nah lho…

    Jadi pada beberapa kesempatan saya pun melontarkan pertanyaan ’sakral’ itu ke beberapa temen. Dan ternyata… wah, enak juga lho nanya kayak gitu. Hahaha… So… Selamat Bergabung di Klub “Kapan Nyusul?”

    Kapan Nyusul?

    Related Posts:
    Permalink for 'Deddy/2009/07/07/Selamat_Bergabung_di_Klub_%e2%80%9cKapan_Nyusul_%e2%80%9d'