Tanggal 11 April lalu saya mengikuti diskusi bulanan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Bali yang mengambil topik Fenomena Ponari: Kajian Medis dan Kesehatan Masyarakat dengan narasumber Prof. dr. Elias Sukardi dan dr. Nyoman Hanati, Sp.KJ(K). Hadir juga di sana dr. Hariyasa Sanjaya, Sp.OG selaku moderator dan juga dr. Cock Wirawan. Acara ini merupakan yang pertama kali diadakan oleh IDI Bali dalam rangka menyambut HUT IDI yang jatuh pada bulan Oktober nanti.

Acara ini bukanlah sebuah seminar. Dan untuk sebuah acara diskusi, boleh dibilang acara ini memiliki nuansa yang berbeda. Peserta duduk lesehan membentuk lingkaran, atau lebih tepatnya duduk di pinggir tembok, dan ditengah-tengahnya ada LCD dan banyak jenis kue. Topik yang dipilih pun bukan topik yang “berat” seputar ilmu kedokteran terbaru. Namun Ponari, seorang dukun cilik yang telah menghebohkan masyarakat Indonesia beberapa bulan terakhir ini. Suasana diskusinya cukup santai namun berisi. Peserta dengan bebas mengemukakan pendapatnya tanpa harus takut dipersalahkan. Pokoknya di sana kita sharing pendapat.
Kebetulan saya dan dr. Martha mendapat bagian untuk merangkum dan menulis ulang hasil diskusi kemarin dan mempublikasikannya di surat kabar Bali Post dan situs IDI Bali. Nah, bagi yang ingin mengetahui hasil diskusi tersebut, silakan baca di situs IDI Bali dan Bali Post, Minggu 26 April 2009 dengan judul “Fenomena Ponari: Antara Kepercayaan, Rasionalitas dan Aspek Medis“
Related Posts:
Satu lagi sebuah karya dari seorang blogger sekaligus dokter, Meta Hanindita, lewat sebuah buku yang berjudul “
Entah kenapa, belakangan ini browsing pake
Saya mulai berpikir untuk berpaling ke 
