Kali ini saya mau merekomendasikan sebuah buku yang menurut saya sangat layak untuk dibaca. Sebuah buku kecil berjudul “The Dip” karya Seth Godin, seorang marketer yang masuk dalam “The 50 Gurus who Shaped The Future of Marketing” (Pak Hermawan Kartajaya juga masuk dalam 50 marketer besar tersebut lho…). Dan buku ini sendiri sudah terbit dalam bahasa Indonesia.

Kita ini seperti hidup dalam sebuah dunia piramida, dimana makin ke puncak makin sedikit orang yang berhasil mencapainya. Celakanya (-atau untungnya bila Anda yang berada di puncak), sedikit orang tersebut hampir mendapatkan segalanya. Sudah biasa bagi kita mendengar peringkat 1 mendapatkan keuntungan 10 kali lipat dibandingkan dengan peringkat 10 dan 100 kali lipat dibandingkan dengan peringkat 100.
Lalu mengapa hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak?
Menurut Seth Godin, sebelum mendaki sebuah puncak kesuksesan, ada “the dip” atau “cekungan” yang harus dilalui. Ternyata banyak orang yang lebih memilih untuk berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Mereka menyerah pada “the dip“.
Namun menariknya, Seth Godin tidak serta merta mendukung usaha yang tidak kenal kata berhenti. Hidup ini pilihan. Termasuk juga di dalam memilih harus “bertahan” atau “berhenti”.
Vince Thomas Lombardi, seorang pelatih American Football pernah menyatakan:
Orang yang berhenti tidak pernah menang. Sebaliknya, para pemenang tidak pernah berhenti.
Tidak. Para pemenang selalu dapat berhenti. Namun mereka berhenti hanya karena sesuatu yang benar dan pada saat yang tepat.
Apakah sesuatu yang benar itu? Kapankah saat yang tepat? Seth Godin akan menjawabnya melalui “The Dip“!