
Selamat Tahun Baru Imlek 2560/2009 bagi yang merayakan. Sukses terus ya…
nb: Foto di atas adalah foto keponakan saya, Alexander “Lexie” Reynard Pramana. Masih inget kan postingan berjudul “Welcome to The World, Lex!” ?
Weblog aggregator Bloggerian

Selamat Tahun Baru Imlek 2560/2009 bagi yang merayakan. Sukses terus ya…
nb: Foto di atas adalah foto keponakan saya, Alexander “Lexie” Reynard Pramana. Masih inget kan postingan berjudul “Welcome to The World, Lex!” ?
Kali ini hanya sebuah postingan singkat, sebagai bentuk dukungan saya terhadap seorang sahabat yang sedang berlaga di Busby SEO Test yang sudah memasuki hari-hari terakhir (31 Januari 2009). Kontes yang diselenggarakan oleh BUSBY Web Solutions (BWS); sebuah perusahaan dari Australia yang bergerak di bidang web design, hosting & domain, SEO dan internet marketing ini terbilang cukup unik dan “cerdas”.
Terlepas dari hadiah yang ditawarkan memang menggiurkan, perusahaan ini cukup jeli untuk memfasilitasi keinginan para SEOers di seluruh dunia untuk berkompetisi. Dan tidak tanggung-tanggung, BWS dengan berani memasang embel-embel “World Cup” di kontes yang mereka selenggarakan. Tentu saja, kalau Anda yang pertama, Anda bebas untuk memasang label “dunia” di brand Anda.
Kontes ini terbilang sukses, bahkan kontes yang sekarang adalah untuk yang kedua kalinya. Menurut saya kuncinya adalah memfasilitasi. Saya teringat dengan kata-katanya pak Yuswohady di bukunya yang berjudul CROWD : Marketing becomes Horizontal.
Marketing is not about selling.
It’s not about advertising.
It’s even not about marketing mix.
Marketing is about facilitating.Facilitating is your “reason for being”.
Nah, bagi yang ingin mendukung sahabat saya di kontes SEO dunia tersebut, silakan menambahkan link berikut di blogroll atau tulisan Anda: http://enticegh.com/busby-seo-test/ dengan title Busby SEO Test. Mudah-mudahan Indonesia kembali berjaya di turnamen SEO dunia ini.
Related Posts:
Mungkin kalimat di atas terdengar terlalu ekstrim. Tapi kali ini saya memang sengaja ingin seekstrim itu, Berpikir atau Mati! Pada tulisan di bawah Anda akan menemukan sebuah kisah yang harus dicari solusinya. Iya, boleh dibilang ini semacam teka-teki. Bagi yang suka tantangan, saya sarankan untuk tidak langsung masuk ke halaman yang ada komentarnya untuk menghindari membaca jawaban-jawaban yang mungkin muncul. Nah, begini kisahnya…

Bayangkan bila Anda hidup di zaman kerajaan dimana raja-raja memegang otoritas tertinggi. Perintahnya adalah titah yang tidak bisa terbantahkan. Tidak ada yang namanya naik banding atau mohon grasi. Kalau A ya A. Kalau B ya B. Namun kali ini Anda bukanlah berperan sebagai seorang Raja, melainkan sebagai seorang tawanan perang. Anda menghuni sebuah sel penjara yang kecil dan pengap bersama 9 orang tawanan lainnya. Dan celakanya, Raja yang menahan Anda adalah seorang Raja yang kejam dan suka bermain-main dengan “nasib” orang lain.
Suatu hari Sang Raja datang ke sel Anda dan berkata, “Besok siang, saya akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk bebas sebebas-bebasnya orang paling bebas sedunia. Namun itu bila kalian berhasil melewati test yang saya berikan.”
“Kalian akan berbaris ke belakang sebelum eksekusi. Dan eksekutor akan menaruh topi di atas kepala kalian, bisa berwarna merah atau berwarna biru. Tentu saja kalian tidak bisa melihat warna topi yang terpasang di atas kepala masing-masing. Kalian hanya bisa melihat tawanan lain yang ada di depan beserta topi mereka. Misalnya, tawanan nomor 10 dapat melihat warna topi kesembilan tawanan yang ada di depannya. Tawanan nomor 9 dapat melihat warna topi kedelapan tawanan yang ada di depannya. Begitu seterusnya… Kalian tidak boleh melihat kebelakang, berkomunikasi dengan berbagai cara seperti bicara, menyentuh dll…Bila ada yang melanggar peraturan, SEMUA tawanan akan langsung dieksekusi!”
“Dimulai dari tawanan paling belakang (tawanan nomor 10), dia akan diberikan pertanyaan yang sederhana: ‘Apa warna topi yang ada di atas kepalamu?’. Dia hanya boleh menjawab ‘MERAH’ atau ‘BIRU’. Di luar itu, SEMUA tawanan akan langsung dieksekusi!”
“Bila dia dapat menebak dengan benar warna topi yang ada di atas kepalanya, dia akan dibebaskan sebebas-bebasnya orang paling bebas sedunia. Kalau salah, kematian akan menunggunya. Dan permainan akan berlanjut ke orang yang ada di depannya dengan diberikan pertanyaan yang sama. Begitu seterusnya…”
Demikian kata Sang Raja lalu pergi meninggalkan penjara sambil tertawa terbahak-bahak.
Petunjuk : Setelah eksekusi, Sang Raja cukup terkejut mendapatkan 9 dari 10 tawanan itu dinyatakan bebas karena berhasil menebak dengan benar warna topi yang ada di atas kepala mereka. Satu orang tawanan yang dieksekusi dianggap penyelamat oleh kesembilan tawanan yang lain. Tidak ada kecurangan yang dilakukan di sini. Ini murni hasil dari logika berpikir.
Nah, sekarang Anda memiliki waktu semalaman untuk berpikir, apa yang Anda dan tawanan lain lakukan untuk lolos dari permainan maut Sang Raja ini?
Think or Die!
Related Posts:
Kali ini saya mau merekomendasikan sebuah buku yang menurut saya sangat layak untuk dibaca. Sebuah buku kecil berjudul “The Dip” karya Seth Godin, seorang marketer yang masuk dalam “The 50 Gurus who Shaped The Future of Marketing” (Pak Hermawan Kartajaya juga masuk dalam 50 marketer besar tersebut lho…). Dan buku ini sendiri sudah terbit dalam bahasa Indonesia.

Kita ini seperti hidup dalam sebuah dunia piramida, dimana makin ke puncak makin sedikit orang yang berhasil mencapainya. Celakanya (-atau untungnya bila Anda yang berada di puncak), sedikit orang tersebut hampir mendapatkan segalanya. Sudah biasa bagi kita mendengar peringkat 1 mendapatkan keuntungan 10 kali lipat dibandingkan dengan peringkat 10 dan 100 kali lipat dibandingkan dengan peringkat 100.
Lalu mengapa hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak?
Menurut Seth Godin, sebelum mendaki sebuah puncak kesuksesan, ada “the dip” atau “cekungan” yang harus dilalui. Ternyata banyak orang yang lebih memilih untuk berhenti berusaha menjadi yang terbaik. Mereka menyerah pada “the dip“.
Namun menariknya, Seth Godin tidak serta merta mendukung usaha yang tidak kenal kata berhenti. Hidup ini pilihan. Termasuk juga di dalam memilih harus “bertahan” atau “berhenti”.
Vince Thomas Lombardi, seorang pelatih American Football pernah menyatakan:
Orang yang berhenti tidak pernah menang. Sebaliknya, para pemenang tidak pernah berhenti.
Tidak. Para pemenang selalu dapat berhenti. Namun mereka berhenti hanya karena sesuatu yang benar dan pada saat yang tepat.
Apakah sesuatu yang benar itu? Kapankah saat yang tepat? Seth Godin akan menjawabnya melalui “The Dip“!