Malam itu terasa sunyi, kutatap dia yang sedang duduk dengan secangkir Chamomile di genggamannya. Matanya menerawang dan dibiarkannya aroma tersebut memenuhi nafasnya, akhirnya diseruputnya teh itu. Entah apa yang ada di ujung titik pandangnya, masa lalu… masa kini… masa depan… kebahagiaan… kepedihan… atau harapan? Iya, mungkin dia memang sedang menatap sebuah harapan. Masih kuingat dia yang begitu mengagumi kalimat dari Sir Arthur Pineto, seorang dramatist dari Inggis, yang berbunyi “While there is tea there is hope“. Selagi ada teh, di sana ada harapan. Dan selagi manusia masih memiliki harapan, di sana masih ada kehidupan… dan kebahagiaan… Begitu katanya.
Terkadang aku merasa cemburu pada teh yang diminumnya, begitu bebas mengecup bibir dan memonopoli waktunya. Seolah-olah di dunia ini hanya ada dia dan secangkir teh - untuk sesaat. Mungkin bila aku seorang fotografer akan dapat mengabadikan moment itu sebagai sebuah foto yang terfokus pada wanita dan secangkir teh dengan latar belakang yang sangat blur. Ya, hanya ada dia dan secangkir teh Chamomile.
Aku ingin ada di antara dia dan tehnya. Kataku. Aku ingin bersamanya untuk selamanya. Untuk sepanjang sisa hidupku. Kulangkahkan kakiku semakin jauh, mencoba memasuki area suci antara dia dan tehnya. Kutarik dan kuhembuskan nafasku dengan harapan bisa sedikit membuatku lebih rileks (meski kutahu Chamomile bisa melakukannya dengan jauh lebih baik). Will you marry me? Tanyaku.
Kini berganti dia yang menatapku dalam-dalam. Dalaaaaam sekali… Waktu seolah terhenti untuk beberapa saat. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca…. Sebuah senyum manis dia berikan kepadaku. Yes. Katanya kemudian.
Malam itu pun tak lagi sunyi. Kini ada aku dan dia… dan secangkir teh Chamomile…
6 Oktober 2008
Suatu malam berbintang di The Living Room, Kuta, Bali