Besok, 17 Agustus 2008, tepat sudah 63 tahun Republik Indonesia menikmati kemerdekaannya. Terlepas dari apakah semua orang sudah merasa merdeka atau tidak, keadaan saat ini sudah tentu jauh lebih baik dari pada saat kita masih dibawah jajahan Belanda atau Jepang; setidaknya begitu cerita orang-orang tua di rumah. Saat saya masih kanak-kanak, kemeriahan 17-an sangat saya rasakan. Tidak hanya dengan memasang bendera merah putih di tiang bendera, tapi juga merangkai bendera kecil-kecil untuk dipasang di atap rumah. Sepeda pun saya hias agar bernuansa merah putih. Lalu dengan gelak tawa bersama teman-teman menyaksikan berbagai perlombaan seperti lari karung dan panjat pinang.
Filosofi Panjat Pinang
Kamarin, ketika saya menyaksikan Kabaret Gado-gado Politik di Metro TV, Butet Kertaradjasa menyampaikan tentang Filosofi Panjat Pinang dari sudut yang berbeda. Selama ini, saya menilai bahwa panjat pinang menggambarkan usaha, kerja sama dan semangat persatuan yang harus dipupuk untuk meraih sesuatu. Kehidupan juga terkadang seperti permainan panjat pindang. Untuk meraih apa yang kita impikan, kita harus bekerja keras, lelah, kemudian terjauh. Dan kesuksesan pun akan menunggu di depan mata mereka yang pantang menyerah. Namun ternyata, filosofi panjat pinang juga dapat berarti sindiran rakyat kepada “elite-elite politik” (dalam tanda petik). Elite-elite politik digambarkan sebagai orang yang berusaha meraih puncak pohon pinang (kekuasaan) dengan melakukan berbagai cara, termasuk dengan menginjak-injak kepala orang di bawahnya (rakyat). Dengan permainan panjat pinang diharapkan agar para elite-elite politik selalu “eling” kepada rakyat. Karena rakyatlah mereka ada di sana, maka sudah sepatutnyalah mereka mengabdi untuk kepentingan rakyat (bukan sebaliknya).
Nah, untuk menyambut Dirgayahu dan HUT ke-63 Republik Indonesia, maka saya mengubah nuansa blog ini dari hijau ke merah putih sampai beberapa hari ke depan.
Merdeka!