Pada postingan saya yang berjudul “Dokter, Tolong Baca Blog Saya“, Adel sempat bertanya kenapa hanya kesan negatif tentang Dokter saja yang ditampilkan? Bukanlah suatu kebetulan jika saya hanya menampilkan kesan negatif tentang Dokter di postingan tersebut, namun kenyataannya saya belum menemukan blogger yang menulis kesan positif tentang Dokter. Bahkan tak lama berselang saya juga menemukan tulisan pak Agung pada blognya yang berjudul “Dokter Indonesia, Belajarlah Mental dari Dokter Australia“. Meski saya, dr. Ady Wirawan dan beberapa rekan lain sempat memberi masukan dari perspektif yang berbeda, namun saya jadi berfikir, seburuk itukah citra Dokter Indonesia di mata blogger?
Lalu kemarin saya mendapat komentar dari seorang pengunjung blog berinisial LP di postingan saya “Dokter Dua Ribu“. Beberapa point yang ingin disampaikan olehnya adalah sebagai berikut:
- Biaya Pendidikan Kedokteran yang mahal menjadi salah satu faktor dominan, dokter-dokter Indonesia hilang akal, hilang kendali, hilang nurani dan menjadi dokter matre ( baca “kecenderungan”), istilahnya buru-buru untuk balik modal.
- Saya mewakili para masyarakat awam melihat bahwa dokter-dokter sekarang ini matre. Kenapa ? Karena dari biaya konsultasi yang mahal tapi tidak diimbangi dengan kewajiban yang harusnya dijalankan dalam profesinya. Memberikan pelayanan yang baik, pasien dihargai, pasien didengar keluhannya, pasien dijelaskan + dan - mengenai pengobatan yang diambil, tidak adanya second opinion, pasien diberi kesempatan untuk bertanya, pasien diperlakukan secara manusiawi bukan seolah-olah bagaikan mesin yang tidak punya perasaan.
- Dari beberapa artikel kesehatan, diberitakan bahwa banyak pasien yang hijrah ke luar negeri untuk berobat karena mereka merasa terpuaskan oleh pelayanan dokter disana, pasien di indonesia takut mallpraktik.
Apakah memang seperti itu kondisi dunia kedokteran Indonesia?
Saya menduga, 90% adalah benar bahwa poin 1-3 diatas menjadi faktor yang melandasi keterpurukan dunia kesehatan Indonesia…
Terimakasih kepada pak LP atas komentarnya. Nah, melalui postingan ini dipersilakan bagi mereka yang ingin meluapkan uneg-uneg atau memberikan kesan-kesan tentang Dokter di Indonesia. Saya percaya tentunya tidak semua blogger memiliki pengalaman buruk tentang Dokter. Namun kenyataan masih susahnya menemukan tulisan positif tentang pengalaman ke Dokter merupakan PR tersendiri bagi kalangan kesehatan. Toh semua kesan negatif itu bisa diambil hikmahnya untuk lebih memacu kalangan kesehatan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada masyarakat.
Pendapat saya?
Pertama, saya ingin menyampaikan agar jangan menggeneralisasikan segala sesuatu, termasuk juga di dalam menarik sebuah kesimpulan tentang sesuatu tanpa adanya data-data yang mendasarinya. Meski itu sebuah “kecenderungan”.
Saya ingin berkomentar sedikit mengenai mahalnya tarif konsultasi atau pelayanan Dokter. “Mahal” itu relatif. Jika mengambil rata-rata jasa dokter umum antara Rp 20.000,- s/d Rp 30.000, apakah itu nilai yang besar? Mungkin tidak untuk sebagian orang. Apalagi bagi mereka yang perokok, yang dalam sehari bisa habis 4 bungkus. Tapi bayangkan bagi anak-anak jalanan yang tiap hari harus mengemis atau ngamen di pinggir jalan dan lampu merah. Bagi mereka uang segitu cukup untuk bertahan hidup 3-7 hari.
Dokter dan tenaga medis lainnya adalah sebuah pekerjaan yang besar resikonya. Menjaga “nyawa” orang lain adalah sebuah tanggung jawab moral yang luar biasa, bukan hanyak kepada sesama manusia dan hukum, tapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah semua perbuatan kita di dunia ini harus kita pertanggungjawabkan kelak?
Resiko besar tersebut juga tidak terlepas dari nyawa dokter dan tenaga medis itu sendiri. HIV/AIDS, Flu burung, hepatitis dan masih banyak lagi deretan penyakit lain yang kiranya siap menghantui para Dokter ketika menjalankan tugasnya. Iya, kami tahu itu memang resiko yang sudah seharusnya kami tanggung didalam menjalankan profesi. Tapi pernahkah terpikir oleh anda? Coba bandingkan dengan resiko yang harus ditanggung oleh seorang tukang cukur di salon yang tarif potong rambutnya juga tak jauh beda dengan tarif dokter umum (bahkan lebih tinggi?).
Ada Begitu Banyak Pilihan!
Hingga April 2006, terdapat 52 Fakultas Kedokteran di Indonesia baik negeri maupun swasta. Bila dalam setahun masing-masing fakultas kedokteran melulusan 100 orang dokter baru (bahkan ada yang sampai 300 orang), dalam setahun Indonesia memiliki 5200 orang dokter baru! Dilihat dari sudut Pasien, maka sesungguhnya ada begitu banyak pilihan bagi Pasien dalam memilih dokternya. Sekedar contoh, kembali ke tukang cukur di atas, bila saat ini saya tidak puas terhadap layanan atau potongan dari tukang cukur A, maka berikutnya ketika hendak potong rambut, saya tentunya tidak memilih untuk datang ke tukang cukur A lagi. Bisa saja saya datang ke tukang cukur B, C, D bahkan Z (tentu saja saya tidak bermaksud menyamakan “kesehatan” dengan “rambut”, ini hanya perumpamaan semata). Dilihat dari sudut Dokter, tentunya hal ini seharusnya lebih memacu para Dokter untuk memberikan pelayanan yang lebih dan lebih baik lagi kepada Pasiennya bila ingin tetap menjadi pilihan bagi Pasien-pasiennya.
Memandang setiap manusia sebagai manusia menurut saya adalah suatu hal yang memang seharusnya dilakukan oleh semua orang. Bukan hanya oleh dokter kepada pasiennya, tapi begitu juga sebaliknya. Bukan hanya oleh Presiden kepada rakyatnya, tapi begitu juga sebaliknya. Bukan hanya oleh saya kepada tentangga saya, tapi begitu juga sebaliknya. Dokter dan dunia kesehatan selalu dituntut untuk sempurna, padahal Dokter juga manusia… makhluk yang penuh ketidaksempurnaan. Mudah-mudahan dengan saling menghargai satu sama lain tentunya hubungan antara dokter-pasien dapat menjadi lebih harmonis.
Be Positive, Be Healthy, Be Happy! ![]()